Temukan Beberapa Hal Ini di Coban Talun!

Sebagian penting dari perjalanan saya barangkali adalah soal waktu luang dan teman seperjalanan. Meskipun agak jauh, mungkin saya akan berangkat ketika dua hal tersebut terpenuhi. Belakangan ini hampir tiap akhir pekan terdapat waktu luang dan teman perjalanan, sehingga ada saja ide untuk menciptakan momen baru, salah satu tempat persinggahan beberapa waktu lalu adalah coban talun.

Sesuai data dari Google Maps, coban talun terletak di Dusun Wonorejo, Desa Tulungrejo, Kec. Batu, Tulungrejo, Bumiaji. Secara ancer-ancer, lokasi coban talun searah dengan cangar, jika dari alun-alun batu maka arahnya adalah ke utara. Nantinya jika sudah ada di depan gang, terdapat petunjuk yang mengarahkan menuju tempat ini.

candi-njawar-dan-exploreer

Ketika sampai di lokasi, pengunjung diharuskan membayar Rp. 7500, sedang untuk parkir Rp.5000. Dari loket tentu saja akan diarahkan sesuai jenis kendaraan oleh pengelola setempat. Mobil pada parkiran mobil, motor pada parkiran motor. Jam di telepon seluler milik saya masih pukul 10.30, namun situasi sudah ramai. parkiran sudah terisi 3 shaf, dan sempat sedikit bingung tempat memarkir motor karena kelihatan penuh. Tapi akhirnya saya dapat parkiran. Setelah itu barulah menanyakan dimana lokasi coban berada pada bapak penunggu parkir.

“Pak, coban e pundi nggih?”

“Mudun ae mas, mlaku sitik sampe kok”

“matur nuwun”

Sesuai dari bapak penjaga parkir saya mengikuti arah menuju coban. Ini adalah pertama kali saya ke coban talun, sebelumnya tidak tahu sama sekali dimana lokasinya pun fitur fitur di lokasi ini. Tapi, karena tujuan utama adalah coban maka menjadi keharusan buat saya pribadi untuk sampai ke tujuan dulu baru lainnya. Begitu setengah perjalanan, sampai di hutan pinus. Lumayan bagus sih, tapi saya memilih untuk mengambil foto nanti. saya yakin bahwa jalan hanya ada satu. Hal ini saya simpulkan lewat pengamatan dari pengunjung yang lalu lalang.

20170109-_DSC0026

Setelah berjalan tidak sampai 30 menit saya sampai di coban talun, disini ternyata sudah sangat ramai. Kombinasi perempuan seumuran ibu saya dan beberapa mahasiswa sedang plesiran kala itu, membuat hati ini merasa kurang nyaman. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga tempat umum. Walhasil, saya cuma melihat sebentar memuaskan penasaran saja. Dari kunjungan sebentar itu saja saya belajar bahwa:

  • Bagian bawah bagus untuk foto, cukup instagrammable jika ukuran foto baik adalah instagram.
  • Sungai dibawah coban tidak bisa digunakan untuk renang ukuran adult, kalau basah – basahan bisa
  • Sudah terdapat penjual mi instan

Begitu puas, saya berencana naik ke pos awal start tadi. Sesuai dengan prediksi, hutan pinus tadi merupakan akses satu satunya yang dibuka untuk publik. Beberapa foto saya ambil, sekedar untuk mengabadikan momen. Pada jembatan seusai hutan pinus, saya terpaksa merubah niat dan lebih memilih untuk berbelok menuju ke tempat lainnya.

20170109-_DSC0106

Bendungan

Bendungan ini terletak dilokasi coban talun, jika dilihat dari jalan parkiran. Coban ini ada disebelah kiri jalan. Tapi, karena malas memutar dari jembatan setelah hutan pinus saya mblasak pinggiran got (sebenarnya sungai sih, tapi kecil) untuk sampai di tempat tersebut. Setelah jalan yang agak sedikit melengkung, akan terlihat bendungan. Tempat ini cukup instagrammable juga sih, dan lagi lagi karena ramai saya tidak ingin melanjutkan lebih jauh menuju ke tempat tersebut. Karena memang semaunya sendiri, tiba tiba saya sampai di belakang warung penduduk dan ini adalah contoh buruk. Sebaiknya ikuti jalan sesuai peraturan, karena jika tidak akan di-celatu pemilik warung.

20170109-_DSC0141

Pagupon

Sebelumnya tahu kan pagupon itu apa? pagupon dalam bahasa malangan yang saya gunakan merupakan rumah burung merpati. Di Coban Talun terdapat semacam kafe yang me-makro-kan pagupon, yang aslinya hanya seukuran merpati diperbesar hingga cukup untuk digunakan foto oleh manusia. Untuk mengambil foto di pagupon ini dikenai tarif Rp. 5000,-, yang mana ini akan dikoversikan menjadi segelas susu ketika masuk lokasi pagupon. Saya sendiri memilih didepan gerbang, mengamati suasana dan tidak masuk kedalam.

20170109-_DSC0151

Apache Camp

Seperti halnya pagupon, Apache camp adalah cafe tempat beristirahat ketika tidak sedang membawa alas. Masuk ditarif Rp. 5000,- tidak dikonversi menjadi bentuk apapun. Ditempat ini tentu saja pengunjung bisa berfoto dengan pernak pernik khas suku apache, pun dengan replika dari rumah adatnya. Karena tidak terlalu tertarik dengan bagian ini, akhirnya saya cukup memandang dari pinggiran saja, dan mengamati ragam orang yang mengambil gambar lewat kamera masing masing.

20170109-_DSC0169

Taman Bunga

Taman bunga ini terletak disebelah dari apache camp, seperti halnya yang lain. Untuk foto dilokasi ini dikenai biaya Rp. 5000,- per orang. Lagi lagi saya tidak masuk, dan memilih diluar. Taman bunga ini terdapat dua lokasi yakni di kiri jalan dan kanan jalan. Kebanyakan bunga yang terlihat merupakan bunga dari genus hydrangea bunganya berkelompok, tapi lewat fitur eksplor yang disediakan oleh instagram saya yakin tidak hanya itu saja bunganya.

20170109-_DSC0165

Dan setelah lama berjalan, saya capek juga. Menemukan penjual sempol, belilah saya sempol dan duduk di sisi lain jalan. Selain menghabiskan sempol, saya jadi berpikir. Setelah ini ada apa lagi ya di coban ini?

Coban Jahe di Tumpang, Coban Tangkil juga!

Bersama dengan beberapa teman, saya kembali mengunjungi coban jahe di tumpang. Berbekal motor seadanya dan bungkusan sarapan pagi, kami memulai perjalanan. Sebelumnya, saya sudah pernah ke coban ini beberapa tahun lalu. Tapi karena agak lupa serta takut nyasar, Sebelum memulai perjalanan salah satu diantara kami mencari lokasi coban ini di Google Maps lalu menyimpannya secara Offline. Setelah itu, barulah perjalanan dimulai dari Kota Malang.

Jika Anda berminat menuju coban ini, lokasinya sudah seperti saya sebutkan yaitu berada di Tumpang. Lebih detail Anda bisa mengunjungi Google Maps atau secara ancer-ancer, ada di belokan pertama setelah gapura selamat datang Tumpang. Yang mana, sampai gang depan masih bisa diakses oleh Angkutan desa (mikrolet) warna putih menuju Tumpang, namun untuk masuk ke dalam Anda diharuskan naik ojek.

Coban Jahe - Taman
Taman yang ada di sekitar coban
coban-jahe-taman-dan-coban
Taman dan coban jahe
coban-jahe-long-expossure
coban jahenya saja, kenapa langitnya putih? Karena mendung!

Secara umum, jalan di lokasi ini masih belum baik namun bisa ditoleransi. Bagian yang telah diaspal hingga jalan utama sekitar 1 km dari lokasi coban, selebihnya masih berupa jalan batu. Dibanding coban yang ada di batu, coban ini terhitung sepi. Pun juga fasilitas yang ada belum terlalu banyak, namun sudah cukup lengkap. Misalkan Musholla, 1 warung kecil, dan penyedia layanan tubing.

Yak tubing, permainan semacam mengikuti aliran air deras di sungai. Untuk permainan ini saya belum mencoba, lebih merasa ndak tega dengan medannya. Batu besar besar, barangkali bisa mengakibatkan terbentur atau lainnya. 😀 Walhasil, saya lebih memilih untuk melakukan trekking menuju coban lainnya di kawasan wisata Coban Jahe.

Coban lainnya itu namanya coban tangkil, di perjalanan sebelumnya (maksudnya,kunjungan pertama kali) saya dan teman lain sempat tersasar dan dicari oleh tim sar setempat. Sehingga dalam perjalanan ini, saya lumayan ragu. Tapi karena temannya sudah memaksa ya apa boleh buat, toh sedikit banyak sudah ingat jalannya, menaiki bukit kecil menjadi awal perjalanan menuju coban tangkil.

coban-jahe-trakking
Perjalanan di mulai
coban-tangkil-perjalanan
apakah kamu menemukan sesuatu?
coban-tangkil-perjalanan
ada yang mau kopi?
coban-tangkil-susur sungai
halo, kami dari..

Jalannya bisa ditemukan dekat dengan loket, atau ada disebelah jalan utama dari menuju coban jahe. Coban tangkil ini sebenarnya merupakan coban yang terletak diatas coban jahe, Sehingga jika dikaitkan coban ini akan membentuk nested coban, diatasnya ada coban tangkil. Diatasnya ada lagi coban siyuk, yang berbeda jalan dari coban jahe. Coban jahe belok ke kiri, sedangkan coban siuk masih harus berjalan lebih jauh ke atas.

Coban tangkil sendiri harus dicapai dengan trekking melewati kurang lebih 2 bukit, diawali dengan melewati kebun singkong, menyebrangi sungai, menapaki kebun kopi, membuka semak lebat (mblasak), dan terakhir menyusuri sungai. Ketika hujan, insyaallah coban tangkil ini tidak akan bisa diakses. Karena sungai yang disebrangi dan disusuri akan banjir.

Sampai di medan terakhir, yaitu susur sungai. Kami sempat berpikir akankah lanjut ataukah kembali? Melihat langit sedang sedikit mendung kala itu. Tapi karena “tak mau rugi“, kami melanjutkan perjalanan.Namun, kami membuat perjanjian baru yakni, kompensasi waktu. Sesegera mungkin ketika sudah sampai di lokasi coban, kami kembali lagi. Yah mau tak mau, takut kalau tiba-tiba hujan dan banjir.

coban-tangkil-coban
coban tangkil itu ini!
coban tangkil
coban tangkil di zoom in

Catatan

  1. Jangan mengunjungi coban dalam musim penghujan, ya selain banjir tadi, kebanyakan airnya keruh. Sehingga tidak kelihatan hijau.
  2. Jangan pakai celana pendek, karena kadang terdapat lintah. Itu loh, hewan yang menghisap darah. Tapi kalau ingin sodakoh ya ndak apa.
  3. Bawa uang cash, nggak ada atm sekitar sini
  4. Beberapa mobil bisa sampai sini, namun ada 2 tanjakan agak ekstrem. Bagi yang ndak berani bisa diparkir agak bawah.

Barangkali itu saja cerita dari saya. Oh iya, kalau ada yang tanya biaya Tiketnya dibandrol Rp. 5000,- dan parkirnya Rp. 5000,-, tubingnya tidak tahu, trekkingnya kalau tahu jalan gratis, kalau nggak tahu ya mbayar guidenya. Atau bisa juga sih kontak kontak aku 😛

sekian, dan kuy jalan jalan!

Pantai Watu Leter, Secara Umum Begini Gak Sih?

Sebelumnya, saya sempat mengira Pantai watu leter ini merupakan salah satu gugusan pantai batu bengkung. Secara bentuk batu pada pantai di batu bengkung, atau pantai di sebelah batu bengkung memiliki kesamaan dengan bentuk batu di pantai ini. Kenyataannya pantai watu leter berbeda dengan batu bengkung, meskipun sama sama memiliki batu di pantainya.

Jalur untuk mencapai pantai ini merupakan satu kesatuan dengan beberapa pantai lainnya, misalkan saja sendiki atau batu bengkung. Namun, yang membedakan adalah jalur akses ke lokasi pantai dari jalur lintas selatan. Untuk pantai watu leter sendiri ada 2 jalur, yakni lewat jalur gua cina dan langsung menuju watu leter. Dibanding yang Langsung menuju lokasi, jalur gua cina merupakan jalur yang lebih mudah. Terlebih lagi ketika sedang musim hujan. Hal ini berdasarkan apa yang saya alami ketika berangkat lewat jalur langsung dan pulang lewat jalur gua cina. Jalur awal lumayan curam, ditambah kondisi jalan yg masih berupa tanah. Sednagkan untuk jalur gua cina, sudah jauh lebih baik.

Begitu sampai, saya membayar retribusi pengelolaan pantai. Untuk sepeda motor, dan 2 penumpang dikenai 15rb rupiah. Sedang untuk mobil, lebih mahal. Karena saya lewat jalur langsung ke lokasi, maka retribusibini dibayarkan di lokasi parkir. Untuk jalur gua cina, bisa jadi di tempat lain. Selain itu ditempat ini pun diperbolehkan untuk mendirikan tenda dan menginap, tentunya dengan membayar retribusi di tempat yang sama. Tenda pun disediakan di lokasi ini, namun dengan harga sewa yg sedikit berbeda ketika membawa dari rumah. Saya sendiri belum menyewa karena memang tidak menginap di lokasi pantai.

Pantai-watu-leter-karcis-masuk
Loket Karcis
pantai-watu-leter-warung
salah satu warung disana

Pukul 10 siang saya baru beranjak ke pantai, dari lokasi parkir. Tentu saja, panass membakar. Memilih berteduh dibawah gubuk yang sediakan bisa jadi pilihan, yah setidaknya tidak membuat kulit terbakar. Haha.. Adapun bagi yang ingin renang, tidak di perbolehkan yah. Ombaknya lumayan keras, seperti kebanyakan pantai di sebelahnya.

Kalo menurut saya sendiri sih, di pantai ini bakal asik untuk menikmati fajar atau senja. Bagian sisi pantai tidak dibatasi Oleh karang, sehingga pemandangan akan lebih luas. Dan jika mungkin seneng foto dengan tema landscape, bisa jadi pilihan. Dibanding pantai di sebelahnya.

Pantai ini terhitung sepi pengunjung, dibanding gua cina. Bagaimanapun, ketika saya parkir terhitung sepeda tidak mencapai 10 buah. Sedangkan di gua cina, sampai bus pun ada. Warna air yang biru, serta pantai yang masih beraih pun bisa dinikmati di pantai ini. Namun, saya tidak sepenuhnya menikmati. Karena seperti yang saya jelaskan tadi, saya berteduh.

Terima kasih, dan terima kejutan.

pantai-watu-leter-landscape
Pantainya model gini
pantai-watu-leter-landscape-pantai-biru
pantai di sisi yang lain
pantai-watu-leter-pulau-karang
Pulau karang di pulau

Candi Njawar, Google, dan Masyarakat Sekitar

Jadi, karena kebetulan hari sedang cerah, saya menyempatkan diri ke candi njawar. terletak di kecamatan Ampelgading kabupaten Malang, daerah ini merupakan bagian paling timur dari kabupaten Malang. Sehingga berbatasan langsung dengan Lumajang. Secara detail, candi njawar terletak di desa Glidik (kurang lebih 5 – 10 km dari pasar Ampelgading ).

Pukul 9 pagi saya berangkat dari Bululawang, yang rencananya akan tiba disana maksimal pukul 11.30, perhitungan ditambah waktu nyasar sekitar 30 menit. Bukan karena apa, karena memang partner perjalanan ini merupakan seorang yang agak sedikit pelupa soal jalan. Meskipun, dia sebelumnya pernah ke Candi njawar.

Dari bululawang hingga pasar ampel gading, sesuai perkiraan. Namun, beberapa hal terjadi ketika kami mulai menapaki jalan menuju Candi.

Awalnya kami menggunakan layanan Google Maps, seiring waktu perjalanan biasa saja. Kami melewati beberapa jalan menanjak dan menurun, maklum daerah Ampelgading merupakan daerah perbukitan. Namun, semakin jauh laju sepeda motor, kami makin merasa ada hal aneh. Ya, perjalanan ini kemudian menuju ke jalan setapak yang hampir hanya cocok untuk jalan kaki. Google Maps kami tutup, lalu mengaktifkan fitur lain. GPS, Gunakan Penduduk sekitar. Beruntunglah, kami bertemu masyarakat yang tepat untuk bertanya.

candi njawar - kesasar
Jalan yang diarahkan oleh google maps

Beliau memberikan penjelasan yang meskipun kami masih bingung, tapi bisa disimpulkan yakni ada 2 macam candi di wilayah Ampelgading yakni candi Glidik (nantinya kami sebut njawar) dan candi purbakala. Kami sadar bahwa daritadi telah diarahkan menuju jalur yang salah oleh Google Maps.

Sesampai di bawah, selaku pemegang kendali motor. Saya bingung harus mulai berjalan kemana. Belum sampai jauh, kami bertanya lagi kepada penduduk dengan mendatangi rumahnya. Yap, memang tidak sopan, tapi suasana kampung kala itu sedang sepi. Jadi, ya mau tidak mau.

Seperti penjelasan awal, ada 2 candi. Namun, yang berbeda kali ini adalah penyebutannya. Yang kami tanyai menyebutkan villa dan candi purbakala. Saya menambahkan

engkang wonten cemarane niku
oh villa iku mas
lek purbakala pundi bu?
yo iki samean lurus” seraya menunjukan arah jalan menanjak

Ekspektasi saya di awal memang candi jawar ini merupakan semacam candi peninggalan jaman kerajaan dahulu kala, dimana akan terlukis relief yang nantinya akan menjadi oleh oleh hasil perjalanan saya kali ini. Pun dengan cemara keramat dalam khayalan itu. Sejauh itu saya berekspektasi.

Setelah hampir 3 km berjalan dengan rute separuh, separuh jalan baik bersemen dan separuh nya lagi jalan motor trail. Perjalanan saya sudahi, mau tidak mau. Jalan makin menanjak dan makin terjal. Perjalanan ini barangkali harus berakhir dan tidak sampai tujuan, saya berhenti sebentar di salah satu pertigaan jalan, menghimpun tenaga dan menyesali jarak yang telah terlampaui. Tak disangka, seorang mas-mas lewat dan setelah kami tanyai, beliau membenarkan bahwa jalan akan makin sulit. Namun, dari orang ini pula kami sadar, bahwa glidik harusnya menjadi tujuan kami sejak awal.

Kami tidak tahu desa glidik bisa diakses lewat mana, yang jelas saat itu kami harus segera turun dari tempat tadi.

Setelah dirasa jauh, kami kemudian menyempatkan bertanya lagi. Setidaknya, berharap menemukan titik terang dari jauhnya perjalanan yang dilalui. Pada pertanyaan kali ini, kami diarahkan lewat shortcut, jalan kecil yang barangkali hanya cukup untuk satu motor saja. Sebelum lanjut, kami berganti posisi. Saya kini menjadi navigator, menemukan njawar.

Saya tidak tahu pasti, yang jelas di jalan rujukan dari masyarakat tadi kami harus melewati pos tempat keranda, jembatan, dan musholla. Ah.. semacam game. Perjalanan tetap berlanjut, tempat keranda terlewati. jembatan hampir terlewati, namun kami menemukan 2 pasang muda mudi yang sepertinya juga menuju arah yang sama. Diawal sempat ragu, tapi akhirnya mau tidak mau kami pun membuntuti yang ternyata dugaan ini benar.

candi-njawar-tiket
Bayar tiket, buat kebersihan

Kami sampai, masuk bayar karcis. Yang konon kata partner saya barusan ini aja ada. Dulu gratis. pun melihat bentuk karcis, saya menduga ada yang tidak beres dengan tarikan semacam ini. hehe..
Tapi, bagaimanapun saya mendukung niat baik beliau untuk mau menertibkan segala keadaan sekitar, misalnya bersih bersih mushalla.

candi-njawar-dan-exploreer
Partner In Crime

Diperjalanan naik dan turun, ada pohon cemara yang instagrammable lah di sisi kiri dan kanan jalan. Yang berjajar dari loket parkir, hingga 200 meter sebelum lokasi candi, lumayan panjang dan lumayan menukik. Saya berangkat lurus saja, menuju candi. Dan begitu sampai, apa yang saya ekspektasikan nyatanya berbeda. Candi njawar sepertinya merupakan candi baru, dan tidak pernah ada relief yang bercerita. Pun tidak ada juru kunci.

candi-njawar-dan-penari
kebetulan pas ada penampilan nari. Cuma bentar

Buat saya, Tempat ini barangkali mirip semacam paralayang, dimana pemandangan kabupaten malang dari atas bukit menjadi suguhan utama ditambah bangunan raksasa. Selain itu, ilalang yang sedikit ada bisa menjadi salah satu piliihan juga untuk menambah kesan cinematic looks.

candi-njawar-ketika-mendung
Suasana candinya.

Yah, bagaimana pun candi njawar merupakan candi buatan yang masih baru bila dibandingkan dengan singosari atau mbadut. Barangkali beberapa tahun lagi, ia baru akan menjadi cerita atau setidaknya hari ini ia menjadi cerita untuk para pemain ingress lokal jawa timur.

Food Warrior, Kuliner Indie Malang Berfusi

Hujan deras sempat menjadikan saya telat datang 1 jam ke acara launching food warrior malang. Padahal menurut Google Maps, jika perjalanan normal waktu tempuh yang dihabiskan hanya 15 menit. Ya tapi bisa apa, selain menunggu hujannya sedikit mendingan. Untunglah, ketika tiba acara baru saja dimulai. Terima kasih panitia, telah mentolerir alasan klise saya.

Jika diurutkan kurang lebih aktifitas saya ketika datang adalah parkir, menuju tempat acara, begitu sampai mengisi daftar hadir, meletakkan tas, makan, minum, makan, makan, duduk mendengarkan. Meskipun sedikit banyak makan, saya tetep mendengarkan dengan seksama kok. Bukan karena apa, tapi mubazir kan kalau ada makanan kemudian tidak dimakan. Selang beberapa waktu, camilan saya habis beriringan pula acara dimulai.

P_20161113_152454-01
Pas acara dibuka

diawali dengan ucapan terima kasih dari panitia penyelenggara, dan beberapa pihak sponsor. Setelah itu, kemudian diadakanlah diskusi panel antara panitia dan peserta. Ya, tentu saja lewat momen ini saya jadi paham apa itu Food Warrior Malang.

Jadi begini..

Once upon a time, there was a gold fish, and he was all alone. The end

Oh, bukan. Maaf, terketik narasi iklan tivi.

Food Warrior Malang merupakan tempat berkumpulnya para penggiat industri kreatif kuliner di Malang. Komunitas ini memiliki visi yaitu menjadikan kuliner indie kota Malang lebih berkembang.

Full peserta - Pinjem gambar dari nengbiker.com
Full peserta – Pinjem gambar dari nengbiker.com

Ya, mungkin saat ini sebagai warga Malang, beberapa berpikir bahwa sudah banyak sekali jenis makanan yang ada di Malang raya. Lalu apa yang bakal dikembangkan? Mungkin bagi warga Malang sudah terlalu banyak pilihan, tapi kemudian ketika berada diluar wilayah Malang ataupun pengunjung luar malang yang berkunjung. Pilihan makanan ini akan hanya menuju pada beberapa 2-5 jenis makanan saja. Sedangkan, sesuai dengan statement awal. Warga malang sudah memiliki banyak pilihan makanan, tapi pengunjung belum tahu.

Mbulet yah?

Intinya adalah, Malang punya banyak pilihan kuliner, tapi pengunjung luar malang belum banyak yang tahu. Jadi, lewat komunitas ini. Selain bisa menjalin persaudaraan dan berbagi info sesama anggota, ke depannya pun akan dilakukan berbagai macam aktifitas untuk meningkatkan ketrampilan anggota baik secara teknis maupun non teknis.

Lalu dapat manfaat apa ketika gabung?

  • Mendapatkan informasi lebih cepat, ya berbagai macam informasi sih. Misal kebijakan baru, atau peraturan baru.
  • Banyak tempat untuk berbagi, baik bagi pemula untuk belajar, maupun bagi yang sudah lama untuk tidak lupa berinovasi.
  • Bisa juga sebagai movement untuk satu gerakan untuk Malang raya dari sisi kuliner
  • Juga banyak lainnya sih, yang belum bisa diketik di blog ini. Termasuk kali aja nanti terketik di blog ini (padahal blognya juga jarang viewsnya).

Bukan pemilik warung, dapet keuntungan Juga loh

Food Warrior pun membuka kesempatan pula bagi teman dari komunitas lain yang semisal membutuhkan tempat untuk acara kopdar, acara acara ramah tamah, bahkan hingga kerjasama yang berprofit semisal jualan buku dan kaset rekaman lagu milik pengunjung. Asalkan di obrolkan dulu agar tercapai kesepakatan ya.

Sae toh?

Jadi, yang berminat gabung buruan gih kontak ke Instagram Food Warrior, Kontak disana aja biar tahu apa syarat dan ketentuannya. Tapi yang paling mendasar sih tadi disampaikan untuk selalu hadir ketika ada kegiatan, lebihnya bisa dihubungi via personal. Atau dengan datang saja ke salah satu warung, dan tanya pemilik nya, berikut adalah list warungnya:

Barangkali itu, apa yang saya rekam dari perbincangan lama tapi terasa singkat di lokasi. Sampai disini jika ada yang dibingungkan, bebaskan diri untuk berkomentar. Semangat pagi!

2016_1113_05001900-01-01-01
Full squad bloggerngalam
IMG-20161113-WA0047-01
Vandalism

Saya dan YoungLex Seangkatan kok

Di pagi hari, salah satu rutinitas yang biasa saya lakukan adalah melakukan akses pada media sosial. Tak banyak sih, kadang membuka pemberitahuan dan membalas komentar, atau sekedar melihat lihat kondisi teman dunia maya. Beberapa tulisan ada mulai dari kegalauan soal diri sendiri, pekerjaan, dan lain sebagainya. Termasuk di dalam beranda saya adalah wawancara Metro tv news soal mas younglex, yang dibagikan oleh salah seorang teman.

Entah kenapa, kemudian saya melakukan klik. Membacanya, dan kemudian mencari sumber lain. Membandingkan satu sumber dengan sumber lainnya, berharap bisa memuaskan hati. Realita yang saya dapati setelah rutinitas banding website nyatanya tidak terlalu mengecewakan. Kesimpulannya adalah mas Younglex ini kurang ngregani-lah sama om Iwa K. Kemudian, ada oknum yang mungkin sedang butuh hiburan, sehingga melakukan screenshot path milik om Iwa K, dan dikirimkan pada salah satu akun untuk diunggah pada Instagram.

Kalau boleh beropini..

Saya nggak paham hip-hop, tapi kan saya seangkatannya Mas younglex. Lebih tua dia sedikit sih. Jika dipilih dan memilah, saya membagi 2 sebab-musabab kegaduhan ini terjadi. Yaitu :

Kemudahan Teknologi menjadikan hidup monoton

Kesalahan ini ada pada kemudahan teknologi, kemudahan untuk melakukan skrinsut, kemudahan untuk menghubungi orang berpengaruh di media sosial. Sehingga, ungkapan yang seharusnya personal dan diketahui orang dekat dengan mudahnya menjadi konsumsi publik. Bisa dibayangkan jika tidak ada kemudahan ini misalnya, mungkin om Iwa K, akan bercerita pendapatnya pada kerabat atau rekan kerja-nya saja.

Hal ini saya simpulkan langkah beliau yang mengunggah tulisannya di Path, karena beliau tahu bahwa tujuan Path dibuat yaitu.

Path is a quality, private social network available for mobile devices.

Simple Privacy: You’re in control of your privacy on Path with our easy-to-understand privacy controls.

Whats Path?

Tapi, ya itu tadi. Orang yang melakukan screenshoot memang sedang butuh hiburan kok. Soalnya dia nggak pernah kemana-mana, dan aktif di depan layar saja. Cobalah sekali kali ke Pantai Sendiki, Misalnya.

Keprucut bukan labil, tapi ya cuma Keprucut

Dan tentu saja, sebagai anak muda yang energik. Kadang kami sering keprucut, yang kurang lebih belum saya ketahui padanan katanya di bahasa indonesia. Eng.. bisa diartikan juga sebagai terlanjur atau khilaf, tapi tidak nyaman sih. 😀

Karena memang satu generasi, termasuk saya pun juga ini sering keprucut, tapi bedanya karena bukan artis. Sehingga ke-terlanjur-an itu tidak masuk di berita kategori ‘hot news’. Banyak belajar dan melatih diri merupakan salah satu terapi cara untuk mengubah ritme keprucut ini, agar tidak menjadi sebuah kebiasaan maupun watak.

Saya sempat membaca tanggapan Om Ignatius Penyami (@saykoji) di Notes Facebook beliau, dimana dalam tulisan tersebut. Beliau mengatakan:

I don’t applaud what he said about Iwa K. Sama seperti film Star Wars dulu klasik dan cenderung gak up to date dibanding film Star Wars yang lebih baru, Iwa K is a classic rapper yang gue tetap look up to. Karena untuk generasi gue ada, gue harus belajar dari yang lebih dulu memulai sebelum gue. Classic is classic karena mereka memulai jauh sebelum yang lain, jauh sebelum teknologi bisa membantu dan jadi medium karya mereka dikenal tanpa batas.

Ya, begini nih yang asik. Beliau memang bukan legend, tapi tanpa generasi yang terdahulu bagaimana kita bisa belajar? Dan juga dari post tersebut, saya tahu bahwa genrenya mas Young lex ini sudah ada semenjak dahulu kala, cuma saya dan mungkin Anda saja baru tahu karena kemajuan teknologi yang ada.

Dan Terakhir, bagaimanapun mimpi mas Younglex untuk menjadi rapper dunia. Saya sepenuhnya mendukungmu sam! Harumkan Indonesia dari cara mu dewe, tapi tolong youtube privacy content-nya dinyalakan yah. Set 18+ atau 21+ lah ya.

Makan Indomie The Next Level di Rumah Temen

Indomie the next level, kurang lebih begitu saya menyebutnya. Diawal adanya mie instan, saya berekspektasi bahwa apa yang ada didalam bungkus itu akan sesuai dengan penampakan bungkusnya. Cantik, indah, dan menggemaskan. Nyatanya, bungkus dan isi sama di mie instan terkadang cuma khayalan anak kos di tanggal tua. Tambahan berupa nasi pun harus dilakukan, harapannya sih sesuai dengan kebutuhan kalori. Beuh, melas banget kayaknya jadi anak kosan? Tapi nggak juga tuh, dan nyatanya sekarang indomie sudah menuju ke level lebih tinggi.

Perkara indomie next level ini bisa dijumpai di Malang, salah satunya ada di rumah temen Malang. Bertempat di jalan trunojoyo, Malang. Lokasinya yang dekat dengan stasiun kota baru, menjadikan tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan sedang mengunjungi Malang tapi belum tahu mau makan dimana ketika sampai di stasiun. Untuk aksesnya pun cukup mudah, cukup jalan ke arah lapangan rampal kurang lebih 100 meter. Maka tempat ini akan ditemukan. Kalau memang kehilangan arah, manfaat kan masyarakat sekitar untuk bertanya.

_DSC0013

Karena rumah temen, Ya anggaplah rumah sendiri. Begitu lah slogan di warung ini. Saya pun bersama dengan teman-teman ramai ndak karuan tapi tetap sopan ditempat ini. Mulai dari foto-foto makanan dengan background, ngatur lampu sendiri, bawa tripod sendiri sampai akhirnya bangku diluar dibawa masuk karena emang temannya banyak. Ketika mengunjungi tempat ini, kebetulan cuaca sedang hujan. Walhasil, saya lebih memilih untuk pesen teh tarik hangat dan roti bakar.

_DSC0026
Ini pesennya mas yaniko

Obrolan dimulai setelah pesanan kami datang, ada yang pesan mie indomie, sayap ayam kecap. Ngomong-ngomong kalau boleh jujur, tema perbincangannya adalah #SambatMLG. Karena kami terdiri dari berbagai asal usul, kami sambat keseharian yang ternyata malah jadi guyonan untuk ditertawakan sendiri. Mulai dari dosen yang dikalahkan mahasiswa atau siswanya, kerjasama mahasiswa dengan sosial media yang absurd, dan mahasiswa yang belum segera lulus kuliah.

Kira kira tau kan siapa yang ada di kalimat terakhir? Kalau tahu ya sudah, kalau belum boleh lah japri nomer whatsapp. Nanti kita ngobrol-ngobrol juga. 🙂

Membahas Kopi di After Taste

Ada waktu kosong lagi di rabu sore, yang kemudian terisi oleh nongkrong di warung kopi. Nantinya, mungkin tempat ini bakal jadi tempat jujugan Saya ngopi di sekitaran sengkaling lagi. Namanya After Taste, terletak di pertigaan setelah pemandian sengkaling dari arah kota Malang menuju kota Batu. Bersama 4 orang lain, saya janjian di tempat ini jam 5 sore. Ngobrol santai acak, dan kebanyakan adalah rasan rasan positif dengan harapan muncul ide liar.

after-taste-jawa-ijen
Jawa ijen

Saya datang pukul 16.30 tepat, disambut 2 orang yang sudah duluan santai disana. Sebut saja mas geser dan mas blue-monday, yang sedari tadi menikmati racikan kopi. After taste menyediakan beberapa varian kopi, dari jawa ijen, aceh gayo, dan beberapa lainnya. Saya tidak tahu menahu banyak sih perihal kopi ini, dan semoga lewat pertemuan ini bisa dapat pelajaran agar tidak (merasa) tertipu lagi di kemudian hari. Sebelum mulai memulai perbincangan dengan teman-teman, kopi yang biasa saya minum dalam warung kopi biasa sedang habis stock nya, Jadilah saya pesan cappuccino seharga 10 ribu.

after-taste-menu
Menu milik After taste
after-taste-available-coffe
Kamu suka yang mana?

Begitu duduk dan perbincangan pun mengalir, diawali lewat bali kintamani dan jawa ijen yang sudah dari tadi hadir dihadapan saya.

Tuang dikit mas, terus kalau minum sambil dikasih oksigen” kata mas blue-monday memberikan arahan cara menikmati kopi jenis ini. Saya bingung gimana cara minum kopi tapi di beri sedikit rongga agar oksigennya masuk, maklum gelasnya kecil juga ditambah belum terbiasa, mengharuskan saya menjajal gaya lainnya. Biasanya sih minum kopi ijo ala-kadarnya begitupun dengan kopi kasar gresik.

Ada sedikit rasa jeruknya sih, kalo emang minumnya tepat.” tambahnya. Setelah 3 kali menuangkan dalam gelas, barulah saya paham soal cara minum bali kintamani ini.

after-taste-kiri-bali-kintamani
Bali kintamani, sebelah kiri. Depan, capuccino.

Selang waktu, pembahasan soal bali kintamani berhenti dan melanjutkan pada jawa ijen.

Kalo yang ini body-nya lebih kerasa” kali ini mas geser yang bilang, dan respon Saya adalah?

Mengangguk nggak faham, tapi akhirnya saya tanya apa yang dimaksud dengan body. Konon dari penjelasannya body adalah tingkat keasaman kopi. Secara kopi itu dibagi menjadi 4 bagian utama rasa, asam, pahit dan 2 lainnya saya lupa. Saya ngga begitu memperhatikan cara minumnya untuk bagian ini, yang jelas jika dirasa-rasa memang berbeda dari kopi kintamani tadi.

hmmm.. tapi sama pahitnya sih.

after-taste-capuccino-pesanan
Let’s shake thing’s up

Beriringan dengan capuccino saya datang, tiba juga mas dmzf (entah bacanya gimana) tak lama kemudian mbak rizum. Begitu mas dmzf duduk, langsung disambut dengan pertanyaan dari mas geser
“mas coba ini yang jawa ijen mana?”. Diambilnya dua botol kopi, dihirup baunya. Hanya dengan cara itu saja, langsung bisa ditemukan mana jenisnya. Saya menjadi makin receh dibanding manusia-manusia ini.

Keramaian After taste, makin bisa dirasakan ketika matahari telah tenggelam. Hari itu pukul tujuh, kami menyelesaikan beberapa pertanyaan selain kopi dalam pembahasan yang belum selesai.

Persiapan Diri Sebelum ke Bukit Delight

“Konsep cafe ini dibikin kurang lebih sekitaran 4 bulan, dan itu nggak termasuk pemilihan tempat.” Kata Mas Febri, selaku pemilik Bukit Delight dalam ngobrol kala itu bersama dengan beberapa teman dari sosial media Malang.

bukit-delight-with -social-media-malang
Manakah yang paling bagus handphonenya?

 

Dari sekian kafe di Malang, Bukit Delight barangkali bisa jadi salah satu pilihan tempat nongkrong baru. Secara geografis, lokasinya di Jln. Raya Joyo Agung, Lowokwaru Malang. Memang sih terletak di pinggiran, toh hal ini bukan menjadi kekurangan. Namun, menjadi kenikmatan sendiri. Bagaimana tidak? Berbeda dengan kafe lainnya yang mungkin menyediakan bangunan luas dengan dekorasi bagian dalam, kafe ini malah menjadikan konsep utamanya ada di luar ruangan, pinggiran bukit di tata sedemikian rupa sehingga tidak hanya kesejukan angin malam dan pemandangan dari atas bukit, keakraban pengunjung pun juga makin terasa.

Meskipun ini hanya kafe, tapi kalau diperbolehkan Saya bercerita ada beberapa hal perlu dipersiapkan sebelum datang kesini, antara lain:

Kamera

Susunan lampu yang meriah lengkap dengan pemandangan dan suasana asik, kayaknya sih sayang banget kalau nggak diabadikan. Pada kafe ini pun juga disediakan loh beberapa tempat yang cocok untuk mengambil foto selfie. Group fie, We fie, maupun fie fie lainnya.
bukit-delight-view-from-front
bukit-delight-view-from-back

bukit-delight-selfie-spot

Uang

Hal yang sangat wajib dibawa, karena kalau ga bawa uang, bayar makannya pake apa dong? Pake cinta? Saya belum coba sih, tapi sejauh pengamatan di Bukit Delight bayar pake cinta belum bisa diterima. Masalah banyak atau sedikitnya itu relatif. Beberapa pilihan menu disediakan disini dengan kisaran harga 8 ribu – 25 ribu, sehingga bisa diperkiran bawa uang berapa. Menurut Saya sih, ya Cukup bawa uang seperlunya, kalau lapar banget ya bisa bawa uang yang banyak banget. Kalau biasa aja, ya bawa uang tidak terlalu banyak aja.

bukit-delight-menu-list

 

Teman

Karena ke depan tempat ini rencananya bakal rame, kebayang kan jika posisi diri sedang sendiri dan disekitar adalah manusia dengan pasangan-pasangan yang saling bercerita tentang masa depan? Atau bawalah teman se-gank untuk main uno yang sudah disediakan oleh pemilik. Selain menghilangkan penat, kan juga makin pintar mencocokan angka dan warna.

bukit-delight-bawa-teman

Peralatan lain yang rekomendasi untuk dibawa adalah jaket, meskipun tidak terlalu tinggi tapi buat saya pribadi cukup dingin jika dibandingkan dengan lokasi ditengah kota Malang. Dari Saya itu aja sih, sekian dan terima kasih sayang.

Belajar dan Ngobrol Asik di Atria

Sejujurnya, tulisan di blog ini masih patah patah. Mungkin jika joget patah patah enak dilihat, tapi kalau tulisan lain soal. Bisa jadi melelahkan, membingungkan, salah persepsi dan kemudian tutup tab. Hingga akhirnya terabaikan lalu pindah ke tulisan sebelah saja yang lebih nyaman, lebih lancar terbaca juga memberikan manfaat. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga belajar.

Eh.. kok nyambung nulis sih? Baiklah..

Berawal dari ajakan salah satu teman, sebut saja @nengbiker untuk ngobrol di atria. Saya jadi punya aktifitas malam hari, setelah sebelumnya lebih banyak dihabiskan di warung kopi. Tema acara kali ini adalah ngobrol asik, jelas saja dari temanya bisa terbayang suasananya kan. Ngobrol ngalor ngidul tapi bermanfaat.

Pukul 7 malam, Saya tiba di parkiran hotel Atria. Melanjutkan naik ke lobby, sesuai rujukan dari pak satpam yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Selain bertemu dengan pak satpam, Khalid, salah satu member bloggerngalam juga Saya temui dalam perjalanan tersebut. Sesampai di lobby hotel sudah ada mbak @nengbiker, mimin @infomalang, mbak ayu, mimin @ayasmlgsaja dan satu teman yang belum akrab. Tak lama menunggu, kemudian datang juga mimin @malangfoodies, mas ale, iqbal dan mas iwan. di tengah obrolan bersama mimin-mimin, datanglah PR atria menyapa dan kemudian melanjutkan pembahasan tentang beberapa penawaran serta fitur hotel atria.

Ini sih modelnya, banyak pilihannya - dari instagram @nengbiker
Ini sih modelnya, banyak pilihannya – dari instagram @nengbiker
  • Banyak tamu hotel adalah seorang solo traveler yang terkadang merasa tidak nyaman dengan penggunaan kamar besar.
  • Terlalu sibuk dengan urusan pribadi dalam kamar, sehingga meminimalisir waktu untuk keluar kamar.

Sehingga setelah dilakukan analisa, pihak pengelola hotel pun menyimpulkan, perlu dihadirkan solusi berupa kamar, saat ini namanya adalah premium delux. Di kamar ini, beberapa fitur dihadirkan agar menjawab masalah dari para solo traveler tersebut. Dan hasilnya pun, permintaan terhadap fitur baru ini meningkat.

Ternyata kami tidak cuma ngobrol saja, masih ada jalan-jalan di hotel. Masuk tiap fitur kamar, kolam renang, spa, dan area fitness. Perjalanan sekaligus ngobrol ini berakhir di canting, tempat makan di dalam hotel atria. Sambil bercerita kabar masing masing, kami menikmati sajian yang tersedia.

Lha ini yang hadir, banyak kan.. - dari instagram @ikiule
Lha ini yang hadir, banyak kan.. – dari instagram @ikiule

Dari sini Saya mengambil satu pelajaran bahwa, temukan masalah dulu baru menciptakan fitur agar selain didapatkan hasil juga bisa menemukan kemanfaatan yang lebih besar. Baiklah, skripsiku sudah sesuai sih kayaknya. Kalau skripsimu gimana? Malah keluar topik lagi, ah..

Gini aja deh, semoga kita bertemu di Atria lain waktu yah.. Sampai jumpa.