Food Warrior, Kuliner Indie Malang Berfusi

Hujan deras sempat menjadikan saya telat datang 1 jam ke acara launching food warrior malang. Padahal menurut Google Maps, jika perjalanan normal waktu tempuh yang dihabiskan hanya 15 menit. Ya tapi bisa apa, selain menunggu hujannya sedikit mendingan. Untunglah, ketika tiba acara baru saja dimulai. Terima kasih panitia, telah mentolerir alasan klise saya.

Jika diurutkan kurang lebih aktifitas saya ketika datang adalah parkir, menuju tempat acara, begitu sampai mengisi daftar hadir, meletakkan tas, makan, minum, makan, makan, duduk mendengarkan. Meskipun sedikit banyak makan, saya tetep mendengarkan dengan seksama kok. Bukan karena apa, tapi mubazir kan kalau ada makanan kemudian tidak dimakan. Selang beberapa waktu, camilan saya habis beriringan pula acara dimulai.

P_20161113_152454-01
Pas acara dibuka

diawali dengan ucapan terima kasih dari panitia penyelenggara, dan beberapa pihak sponsor. Setelah itu, kemudian diadakanlah diskusi panel antara panitia dan peserta. Ya, tentu saja lewat momen ini saya jadi paham apa itu Food Warrior Malang.

Jadi begini..

Once upon a time, there was a gold fish, and he was all alone. The end

Oh, bukan. Maaf, terketik narasi iklan tivi.

Food Warrior Malang merupakan tempat berkumpulnya para penggiat industri kreatif kuliner di Malang. Komunitas ini memiliki visi yaitu menjadikan kuliner indie kota Malang lebih berkembang.

Full peserta - Pinjem gambar dari nengbiker.com
Full peserta – Pinjem gambar dari nengbiker.com

Ya, mungkin saat ini sebagai warga Malang, beberapa berpikir bahwa sudah banyak sekali jenis makanan yang ada di Malang raya. Lalu apa yang bakal dikembangkan? Mungkin bagi warga Malang sudah terlalu banyak pilihan, tapi kemudian ketika berada diluar wilayah Malang ataupun pengunjung luar malang yang berkunjung. Pilihan makanan ini akan hanya menuju pada beberapa 2-5 jenis makanan saja. Sedangkan, sesuai dengan statement awal. Warga malang sudah memiliki banyak pilihan makanan, tapi pengunjung belum tahu.

Mbulet yah?

Intinya adalah, Malang punya banyak pilihan kuliner, tapi pengunjung luar malang belum banyak yang tahu. Jadi, lewat komunitas ini. Selain bisa menjalin persaudaraan dan berbagi info sesama anggota, ke depannya pun akan dilakukan berbagai macam aktifitas untuk meningkatkan ketrampilan anggota baik secara teknis maupun non teknis.

Lalu dapat manfaat apa ketika gabung?

  • Mendapatkan informasi lebih cepat, ya berbagai macam informasi sih. Misal kebijakan baru, atau peraturan baru.
  • Banyak tempat untuk berbagi, baik bagi pemula untuk belajar, maupun bagi yang sudah lama untuk tidak lupa berinovasi.
  • Bisa juga sebagai movement untuk satu gerakan untuk Malang raya dari sisi kuliner
  • Juga banyak lainnya sih, yang belum bisa diketik di blog ini. Termasuk kali aja nanti terketik di blog ini (padahal blognya juga jarang viewsnya).

Bukan pemilik warung, dapet keuntungan Juga loh

Food Warrior pun membuka kesempatan pula bagi teman dari komunitas lain yang semisal membutuhkan tempat untuk acara kopdar, acara acara ramah tamah, bahkan hingga kerjasama yang berprofit semisal jualan buku dan kaset rekaman lagu milik pengunjung. Asalkan di obrolkan dulu agar tercapai kesepakatan ya.

Sae toh?

Jadi, yang berminat gabung buruan gih kontak ke Instagram Food Warrior, Kontak disana aja biar tahu apa syarat dan ketentuannya. Tapi yang paling mendasar sih tadi disampaikan untuk selalu hadir ketika ada kegiatan, lebihnya bisa dihubungi via personal. Atau dengan datang saja ke salah satu warung, dan tanya pemilik nya, berikut adalah list warungnya:

Barangkali itu, apa yang saya rekam dari perbincangan lama tapi terasa singkat di lokasi. Sampai disini jika ada yang dibingungkan, bebaskan diri untuk berkomentar. Semangat pagi!

2016_1113_05001900-01-01-01
Full squad bloggerngalam
IMG-20161113-WA0047-01
Vandalism

Saya dan YoungLex Seangkatan kok

Di pagi hari, salah satu rutinitas yang biasa saya lakukan adalah melakukan akses pada media sosial. Tak banyak sih, kadang membuka pemberitahuan dan membalas komentar, atau sekedar melihat lihat kondisi teman dunia maya. Beberapa tulisan ada mulai dari kegalauan soal diri sendiri, pekerjaan, dan lain sebagainya. Termasuk di dalam beranda saya adalah wawancara Metro tv news soal mas younglex, yang dibagikan oleh salah seorang teman.

Entah kenapa, kemudian saya melakukan klik. Membacanya, dan kemudian mencari sumber lain. Membandingkan satu sumber dengan sumber lainnya, berharap bisa memuaskan hati. Realita yang saya dapati setelah rutinitas banding website nyatanya tidak terlalu mengecewakan. Kesimpulannya adalah mas Younglex ini kurang ngregani-lah sama om Iwa K. Kemudian, ada oknum yang mungkin sedang butuh hiburan, sehingga melakukan screenshot path milik om Iwa K, dan dikirimkan pada salah satu akun untuk diunggah pada Instagram.

Kalau boleh beropini..

Saya nggak paham hip-hop, tapi kan saya seangkatannya Mas younglex. Lebih tua dia sedikit sih. Jika dipilih dan memilah, saya membagi 2 sebab-musabab kegaduhan ini terjadi. Yaitu :

Kemudahan Teknologi menjadikan hidup monoton

Kesalahan ini ada pada kemudahan teknologi, kemudahan untuk melakukan skrinsut, kemudahan untuk menghubungi orang berpengaruh di media sosial. Sehingga, ungkapan yang seharusnya personal dan diketahui orang dekat dengan mudahnya menjadi konsumsi publik. Bisa dibayangkan jika tidak ada kemudahan ini misalnya, mungkin om Iwa K, akan bercerita pendapatnya pada kerabat atau rekan kerja-nya saja.

Hal ini saya simpulkan langkah beliau yang mengunggah tulisannya di Path, karena beliau tahu bahwa tujuan Path dibuat yaitu.

Path is a quality, private social network available for mobile devices.

Simple Privacy: You’re in control of your privacy on Path with our easy-to-understand privacy controls.

Whats Path?

Tapi, ya itu tadi. Orang yang melakukan screenshoot memang sedang butuh hiburan kok. Soalnya dia nggak pernah kemana-mana, dan aktif di depan layar saja. Cobalah sekali kali ke Pantai Sendiki, Misalnya.

Keprucut bukan labil, tapi ya cuma Keprucut

Dan tentu saja, sebagai anak muda yang energik. Kadang kami sering keprucut, yang kurang lebih belum saya ketahui padanan katanya di bahasa indonesia. Eng.. bisa diartikan juga sebagai terlanjur atau khilaf, tapi tidak nyaman sih. 😀

Karena memang satu generasi, termasuk saya pun juga ini sering keprucut, tapi bedanya karena bukan artis. Sehingga ke-terlanjur-an itu tidak masuk di berita kategori ‘hot news’. Banyak belajar dan melatih diri merupakan salah satu terapi cara untuk mengubah ritme keprucut ini, agar tidak menjadi sebuah kebiasaan maupun watak.

Saya sempat membaca tanggapan Om Ignatius Penyami (@saykoji) di Notes Facebook beliau, dimana dalam tulisan tersebut. Beliau mengatakan:

I don’t applaud what he said about Iwa K. Sama seperti film Star Wars dulu klasik dan cenderung gak up to date dibanding film Star Wars yang lebih baru, Iwa K is a classic rapper yang gue tetap look up to. Karena untuk generasi gue ada, gue harus belajar dari yang lebih dulu memulai sebelum gue. Classic is classic karena mereka memulai jauh sebelum yang lain, jauh sebelum teknologi bisa membantu dan jadi medium karya mereka dikenal tanpa batas.

Ya, begini nih yang asik. Beliau memang bukan legend, tapi tanpa generasi yang terdahulu bagaimana kita bisa belajar? Dan juga dari post tersebut, saya tahu bahwa genrenya mas Young lex ini sudah ada semenjak dahulu kala, cuma saya dan mungkin Anda saja baru tahu karena kemajuan teknologi yang ada.

Dan Terakhir, bagaimanapun mimpi mas Younglex untuk menjadi rapper dunia. Saya sepenuhnya mendukungmu sam! Harumkan Indonesia dari cara mu dewe, tapi tolong youtube privacy content-nya dinyalakan yah. Set 18+ atau 21+ lah ya.

Makan Indomie The Next Level di Rumah Temen

Indomie the next level, kurang lebih begitu saya menyebutnya. Diawal adanya mie instan, saya berekspektasi bahwa apa yang ada didalam bungkus itu akan sesuai dengan penampakan bungkusnya. Cantik, indah, dan menggemaskan. Nyatanya, bungkus dan isi sama di mie instan terkadang cuma khayalan anak kos di tanggal tua. Tambahan berupa nasi pun harus dilakukan, harapannya sih sesuai dengan kebutuhan kalori. Beuh, melas banget kayaknya jadi anak kosan? Tapi nggak juga tuh, dan nyatanya sekarang indomie sudah menuju ke level lebih tinggi.

Perkara indomie next level ini bisa dijumpai di Malang, salah satunya ada di rumah temen Malang. Bertempat di jalan trunojoyo, Malang. Lokasinya yang dekat dengan stasiun kota baru, menjadikan tempat ini bisa menjadi salah satu pilihan bagi wisatawan sedang mengunjungi Malang tapi belum tahu mau makan dimana ketika sampai di stasiun. Untuk aksesnya pun cukup mudah, cukup jalan ke arah lapangan rampal kurang lebih 100 meter. Maka tempat ini akan ditemukan. Kalau memang kehilangan arah, manfaat kan masyarakat sekitar untuk bertanya.

_DSC0013

Karena rumah temen, Ya anggaplah rumah sendiri. Begitu lah slogan di warung ini. Saya pun bersama dengan teman-teman ramai ndak karuan tapi tetap sopan ditempat ini. Mulai dari foto-foto makanan dengan background, ngatur lampu sendiri, bawa tripod sendiri sampai akhirnya bangku diluar dibawa masuk karena emang temannya banyak. Ketika mengunjungi tempat ini, kebetulan cuaca sedang hujan. Walhasil, saya lebih memilih untuk pesen teh tarik hangat dan roti bakar.

_DSC0026
Ini pesennya mas yaniko

Obrolan dimulai setelah pesanan kami datang, ada yang pesan mie indomie, sayap ayam kecap. Ngomong-ngomong kalau boleh jujur, tema perbincangannya adalah #SambatMLG. Karena kami terdiri dari berbagai asal usul, kami sambat keseharian yang ternyata malah jadi guyonan untuk ditertawakan sendiri. Mulai dari dosen yang dikalahkan mahasiswa atau siswanya, kerjasama mahasiswa dengan sosial media yang absurd, dan mahasiswa yang belum segera lulus kuliah.

Kira kira tau kan siapa yang ada di kalimat terakhir? Kalau tahu ya sudah, kalau belum boleh lah japri nomer whatsapp. Nanti kita ngobrol-ngobrol juga. 🙂

Membahas Kopi di After Taste

Ada waktu kosong lagi di rabu sore, yang kemudian terisi oleh nongkrong di warung kopi. Nantinya, mungkin tempat ini bakal jadi tempat jujugan Saya ngopi di sekitaran sengkaling lagi. Namanya After Taste, terletak di pertigaan setelah pemandian sengkaling dari arah kota Malang menuju kota Batu. Bersama 4 orang lain, saya janjian di tempat ini jam 5 sore. Ngobrol santai acak, dan kebanyakan adalah rasan rasan positif dengan harapan muncul ide liar.

after-taste-jawa-ijen
Jawa ijen

Saya datang pukul 16.30 tepat, disambut 2 orang yang sudah duluan santai disana. Sebut saja mas geser dan mas blue-monday, yang sedari tadi menikmati racikan kopi. After taste menyediakan beberapa varian kopi, dari jawa ijen, aceh gayo, dan beberapa lainnya. Saya tidak tahu menahu banyak sih perihal kopi ini, dan semoga lewat pertemuan ini bisa dapat pelajaran agar tidak (merasa) tertipu lagi di kemudian hari. Sebelum mulai memulai perbincangan dengan teman-teman, kopi yang biasa saya minum dalam warung kopi biasa sedang habis stock nya, Jadilah saya pesan cappuccino seharga 10 ribu.

after-taste-menu
Menu milik After taste
after-taste-available-coffe
Kamu suka yang mana?

Begitu duduk dan perbincangan pun mengalir, diawali lewat bali kintamani dan jawa ijen yang sudah dari tadi hadir dihadapan saya.

Tuang dikit mas, terus kalau minum sambil dikasih oksigen” kata mas blue-monday memberikan arahan cara menikmati kopi jenis ini. Saya bingung gimana cara minum kopi tapi di beri sedikit rongga agar oksigennya masuk, maklum gelasnya kecil juga ditambah belum terbiasa, mengharuskan saya menjajal gaya lainnya. Biasanya sih minum kopi ijo ala-kadarnya begitupun dengan kopi kasar gresik.

Ada sedikit rasa jeruknya sih, kalo emang minumnya tepat.” tambahnya. Setelah 3 kali menuangkan dalam gelas, barulah saya paham soal cara minum bali kintamani ini.

after-taste-kiri-bali-kintamani
Bali kintamani, sebelah kiri. Depan, capuccino.

Selang waktu, pembahasan soal bali kintamani berhenti dan melanjutkan pada jawa ijen.

Kalo yang ini body-nya lebih kerasa” kali ini mas geser yang bilang, dan respon Saya adalah?

Mengangguk nggak faham, tapi akhirnya saya tanya apa yang dimaksud dengan body. Konon dari penjelasannya body adalah tingkat keasaman kopi. Secara kopi itu dibagi menjadi 4 bagian utama rasa, asam, pahit dan 2 lainnya saya lupa. Saya ngga begitu memperhatikan cara minumnya untuk bagian ini, yang jelas jika dirasa-rasa memang berbeda dari kopi kintamani tadi.

hmmm.. tapi sama pahitnya sih.

after-taste-capuccino-pesanan
Let’s shake thing’s up

Beriringan dengan capuccino saya datang, tiba juga mas dmzf (entah bacanya gimana) tak lama kemudian mbak rizum. Begitu mas dmzf duduk, langsung disambut dengan pertanyaan dari mas geser
“mas coba ini yang jawa ijen mana?”. Diambilnya dua botol kopi, dihirup baunya. Hanya dengan cara itu saja, langsung bisa ditemukan mana jenisnya. Saya menjadi makin receh dibanding manusia-manusia ini.

Keramaian After taste, makin bisa dirasakan ketika matahari telah tenggelam. Hari itu pukul tujuh, kami menyelesaikan beberapa pertanyaan selain kopi dalam pembahasan yang belum selesai.

Persiapan Diri Sebelum ke Bukit Delight

“Konsep cafe ini dibikin kurang lebih sekitaran 4 bulan, dan itu nggak termasuk pemilihan tempat.” Kata Mas Febri, selaku pemilik Bukit Delight dalam ngobrol kala itu bersama dengan beberapa teman dari sosial media Malang.

bukit-delight-with -social-media-malang
Manakah yang paling bagus handphonenya?

 

Dari sekian kafe di Malang, Bukit Delight barangkali bisa jadi salah satu pilihan tempat nongkrong baru. Secara geografis, lokasinya di Jln. Raya Joyo Agung, Lowokwaru Malang. Memang sih terletak di pinggiran, toh hal ini bukan menjadi kekurangan. Namun, menjadi kenikmatan sendiri. Bagaimana tidak? Berbeda dengan kafe lainnya yang mungkin menyediakan bangunan luas dengan dekorasi bagian dalam, kafe ini malah menjadikan konsep utamanya ada di luar ruangan, pinggiran bukit di tata sedemikian rupa sehingga tidak hanya kesejukan angin malam dan pemandangan dari atas bukit, keakraban pengunjung pun juga makin terasa.

Meskipun ini hanya kafe, tapi kalau diperbolehkan Saya bercerita ada beberapa hal perlu dipersiapkan sebelum datang kesini, antara lain:

Kamera

Susunan lampu yang meriah lengkap dengan pemandangan dan suasana asik, kayaknya sih sayang banget kalau nggak diabadikan. Pada kafe ini pun juga disediakan loh beberapa tempat yang cocok untuk mengambil foto selfie. Group fie, We fie, maupun fie fie lainnya.
bukit-delight-view-from-front
bukit-delight-view-from-back

bukit-delight-selfie-spot

Uang

Hal yang sangat wajib dibawa, karena kalau ga bawa uang, bayar makannya pake apa dong? Pake cinta? Saya belum coba sih, tapi sejauh pengamatan di Bukit Delight bayar pake cinta belum bisa diterima. Masalah banyak atau sedikitnya itu relatif. Beberapa pilihan menu disediakan disini dengan kisaran harga 8 ribu – 25 ribu, sehingga bisa diperkiran bawa uang berapa. Menurut Saya sih, ya Cukup bawa uang seperlunya, kalau lapar banget ya bisa bawa uang yang banyak banget. Kalau biasa aja, ya bawa uang tidak terlalu banyak aja.

bukit-delight-menu-list

 

Teman

Karena ke depan tempat ini rencananya bakal rame, kebayang kan jika posisi diri sedang sendiri dan disekitar adalah manusia dengan pasangan-pasangan yang saling bercerita tentang masa depan? Atau bawalah teman se-gank untuk main uno yang sudah disediakan oleh pemilik. Selain menghilangkan penat, kan juga makin pintar mencocokan angka dan warna.

bukit-delight-bawa-teman

Peralatan lain yang rekomendasi untuk dibawa adalah jaket, meskipun tidak terlalu tinggi tapi buat saya pribadi cukup dingin jika dibandingkan dengan lokasi ditengah kota Malang. Dari Saya itu aja sih, sekian dan terima kasih sayang.

Belajar dan Ngobrol Asik di Atria

Sejujurnya, tulisan di blog ini masih patah patah. Mungkin jika joget patah patah enak dilihat, tapi kalau tulisan lain soal. Bisa jadi melelahkan, membingungkan, salah persepsi dan kemudian tutup tab. Hingga akhirnya terabaikan lalu pindah ke tulisan sebelah saja yang lebih nyaman, lebih lancar terbaca juga memberikan manfaat. Tapi ya bagaimana lagi, namanya juga belajar.

Eh.. kok nyambung nulis sih? Baiklah..

Berawal dari ajakan salah satu teman, sebut saja @nengbiker untuk ngobrol di atria. Saya jadi punya aktifitas malam hari, setelah sebelumnya lebih banyak dihabiskan di warung kopi. Tema acara kali ini adalah ngobrol asik, jelas saja dari temanya bisa terbayang suasananya kan. Ngobrol ngalor ngidul tapi bermanfaat.

Pukul 7 malam, Saya tiba di parkiran hotel Atria. Melanjutkan naik ke lobby, sesuai rujukan dari pak satpam yang kebetulan berada di sekitar lokasi. Selain bertemu dengan pak satpam, Khalid, salah satu member bloggerngalam juga Saya temui dalam perjalanan tersebut. Sesampai di lobby hotel sudah ada mbak @nengbiker, mimin @infomalang, mbak ayu, mimin @ayasmlgsaja dan satu teman yang belum akrab. Tak lama menunggu, kemudian datang juga mimin @malangfoodies, mas ale, iqbal dan mas iwan. di tengah obrolan bersama mimin-mimin, datanglah PR atria menyapa dan kemudian melanjutkan pembahasan tentang beberapa penawaran serta fitur hotel atria.

Ini sih modelnya, banyak pilihannya - dari instagram @nengbiker
Ini sih modelnya, banyak pilihannya – dari instagram @nengbiker
  • Banyak tamu hotel adalah seorang solo traveler yang terkadang merasa tidak nyaman dengan penggunaan kamar besar.
  • Terlalu sibuk dengan urusan pribadi dalam kamar, sehingga meminimalisir waktu untuk keluar kamar.

Sehingga setelah dilakukan analisa, pihak pengelola hotel pun menyimpulkan, perlu dihadirkan solusi berupa kamar, saat ini namanya adalah premium delux. Di kamar ini, beberapa fitur dihadirkan agar menjawab masalah dari para solo traveler tersebut. Dan hasilnya pun, permintaan terhadap fitur baru ini meningkat.

Ternyata kami tidak cuma ngobrol saja, masih ada jalan-jalan di hotel. Masuk tiap fitur kamar, kolam renang, spa, dan area fitness. Perjalanan sekaligus ngobrol ini berakhir di canting, tempat makan di dalam hotel atria. Sambil bercerita kabar masing masing, kami menikmati sajian yang tersedia.

Lha ini yang hadir, banyak kan.. - dari instagram @ikiule
Lha ini yang hadir, banyak kan.. – dari instagram @ikiule

Dari sini Saya mengambil satu pelajaran bahwa, temukan masalah dulu baru menciptakan fitur agar selain didapatkan hasil juga bisa menemukan kemanfaatan yang lebih besar. Baiklah, skripsiku sudah sesuai sih kayaknya. Kalau skripsimu gimana? Malah keluar topik lagi, ah..

Gini aja deh, semoga kita bertemu di Atria lain waktu yah.. Sampai jumpa.

Belajar Teknologi Informasi Bareng Ibu dan Teman-temannya

Melalui pengamatan Saya, hampir tidak ada masalah terkait teknologi informasi yang bisa dianggap mendesak di tempat Saya menetap yaitu kota Malang. Namun begitu kembali pada tanah kelahiran di kabupaten Malang, barangkali ada beberapa hal yang bisa diceritakan.

Hidup bersama kedua orang tua, sedikit banyak tentu terlibat dalam keseharian beliau. Memiliki ibu berprofesi sebagai guru raudhatul athfal (taman kanak-kanak) dan seorang ayah petani, merupakan salah satu kebanggaan dalam hidup. Selama masa menetap (5 hari dalam seminggu) habis bersama debu dan polusi kota Malang, tidak lantas membuat kegiatan berbakti menjadi berkurang.

Jadi di sela sela menjadi mahasiswa ilmu komputer, Selain bermanfaat bagi diri sendiri lewat cara ini pula tuhan menjadikan Saya untuk lebih banyak bermanfaat untuk lingkungan sekitar, utamanya keluarga. Yaitu menjadi salah satu instruktur pengajar untuk ibu dan teman-temannya . Yah memang sih, dari awalnya ibu dan temannya tidak tahu menahu soal teknologi. Jangankan memiliki email, berkirim pesan melalui WhatsApp saja kadang masih bingung. Tapi mau tidak mau, menjadi seorang guru ternyata dituntut untuk belajar dengan cepat banyak hal yang tak pernah ia pelajari di sekolahnya dulu. Perkembangan teknologi informasi yang menuntut setiap orang bisa mengefektifkan waktunya, nyatanya malah juga menjadikan ibu saya dan teman-temannya lumayan kerepotan.

Ibuk iki wes tuwek le, lek nguruki kalem kalem
nggeh

Jawab Saya kala itu sedang mengarahkan beliau untuk menggerakkan kursor pada editor teks pada komputer jinjing.

Ritme cara belajar bersama ibu secara berkelanjutan Saya pelajari, perlahan, sabar dan secukupnya. Perkiraan awal bakal menggunakan cara belajar bersama teman mahasiswa di kampus ternyata hal tersebut belum benar. Mulai dari membuka browser, mengarahkan kursor segalanya harus perlahan juga telaten. Padahal pikiran saat itu, ini kan butuhnya masih jauh bukan hanya berkenaan dengan mengetik bebas di editor saja, ada tahap menggunakan aplikasi untuk verifikasi dan validasi, ada pengiriman email, ada penggunaan rumus dan sebagainya yang berhubungan dengan komputer.

Jika boleh ditarik ke beberapa masa lalu, Saya masih ingat ketika membantu menjadi tukang antar kertas lebih mudah dibandingkan mengajari komputer saat ini. Meskipun mudah tapi lumayan repot serta menghabiskan waktu. Begini kurang lebih alurnya:

  • Teman ibu memberikan beberapa lembar kertas yang lumayan banyak untuk di isi secara manual. Kertas itu di isi sesuai dengan arahan dari temannya lewat salah satu contoh.
  • Kemudian ibu mengisinya sendiri, kadang ketika dirumah saya ikut membantu sih. Jika tidak dirumah, ibu dibantu 3 orang teman guru di raudhatul athfal. Baru kemudian diantar kembali ke titik awal.
  • Jika ditemui kesalahan, maka proses ini diulangi dari awal.

Mudah bukan? Buat Saya Mudah, tapi lumayan menghabiskan sumber daya waktu dan biaya. Bisa terbayang salah satu teman ibu ada yang jaraknya hingga 1 jam perjalanan dari rumah.

WhatsApp Image 2016-09-29 at 7.42.38 PM
Workshop dari fotonya ibu
WhatsApp Image 2016-09-29 at 7.42.41 PM
Sama sih, juga suasana workshopnya

Seiring waktu berjalan, barangkali pemerintah sadar akan salah satu masalah yang dihadapi para guru semacam ibu Saya dan temannya. Salah satu dari solusi dari pemerintah untuk para guru adalah dengan adanya pelatihan pada salah satu perwakilan dari tiap kecamatan. Pelatihan ini kurang lebih digelar dari pagi hingga sore menjelang.

Setibanya di rumah, ibu banyak bercerita kebingungan dari kata yang disampaikan oleh pematerinya. Lain kesempatan pada permasalahan yang sama, Saya harus melakukan penjelasan teknis komputer melalui telpon.

“Iya, klik di pojok… Lalu begini.. begitu. Setelah itu buka gambar kuning kotak di menu bawah”

Tidak ada dalam pelajaran komputer kuliah, tapi kefahaman yang dibutuhkan. Jadi, segala halnya improvisasi.

Buat Saya sih, adanya teknologi informasi ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan oleh semua elemen masyarakat yang terlibat didalamnya, tapi jika hanya berupa alat dengan kurangnya pemahaman tentang hal tersebut dari pengguna sendiri tentunya pencapaian yang didapat tidak terlalu optimal. Harapannya tidak lain adalah Keduanya harus memiliki porsi berimbang  baik dari segi pengadaan teknologi informasi serta pengetahuan tentang pemanfaatannya.

Jadi, bagaimana kabar perkembangan teknologi informasi di lingkunganmu?

Kembali ke Mahameru, Ranukumbolo – Puncak – Ranupani

Pukul 05.00, Ranukumbolo sudah cerah. Karena kebetulan saya bangun agak awal dari lainnya, jadi saya yang membangunkan tim untuk bersiap. Masak sebentar, foto foto lama, membereskan tenda sebentar, membuat perjalanan kami harus dilakukan agak sedikit siang. Perjalanan Ranukumbolo – Kalimati dimulai pukul 08.00 setelah kami berdoa.

kembali-ke-mahameru-sunrise
Sunrise nya asik, tapi kameranya gak asik

Continue reading “Kembali ke Mahameru, Ranukumbolo – Puncak – Ranupani”

Sudah Pernah ke Wisata Petik Mawar di Kota Batu?

Sepengetahuan Saya, selain wisata petik buah apel sebenarnya juga terdapat petik jeruk dan petik strawberry. Saat ini saya sendiri belum pernah wisata ke kedua tempat tersebut,  Namun ada wisata petik lain yang saya temui, namanya petik bunga mawar.

wisata-petik-mawar-tanda-jalan-gumur
Keliahatan kan namanya?

Terletak di sekitar selecta, tapi untuk mencapai tempat ini pengunjung diharuskan meninggalkan jalan raya sejauh 3km. Sejujurnya saya tidak tahu menahu soal tempat ini, kecuali setelah teman mengajak jalan secara tiba tiba nyeplos kepada penunggu tiket di kebun apel ketika kami hampir pulang.

Gumur adalah nama dari lokasi petik mawar, yang baru kami tahu ketika sampai di lokasi. Ya karena memang diawal kami hanya bertanya soal kebun petik mawar tanpa menyebutkan nama. Kami sebenarnya kaget begitu sampai di tempat ini, tidak ada karcis, tidak ada penunggu parkir lah minimal, benar benar kosong momplong. Yah meskipun tempat ini sebenarnya kebun/ladang biasa, namun adanya landmark berupa mawar besar dari semen lumayan menguatkan bahwa gumur adalah tempat wisata.

wisata-petik-mawar-gerbang-landmark-mawar
Gerbang utama dan landmark nya, kusam.

Saya terpaksa nyludur masuk ke dalam lokasi kebun/ladang mawar. ya bagaimana, sudah jauh-jauh terus balik kan nggak puas toh.

Di tempat ini, selain menemukan bermacam – macam mawar, saya sempat ngobrol dengan pak tani tua. Beliau menuturkan bahwa memang tempat ini beberapa waktu ini tidak lagi aktif, entah karena apa. Namun jika berminat terhadap bunganya, bisa langsung membeli pada pengepul bunga di desa. Tidak hanya itu, beliau juga sedikit bercerita soal penanaman mawar yang awalnya dari bibit, kemudian masih harus disetek, dipupuk, dirawat dengan baik sebelum akhirnya bisa mekar dan dijual. Setangkai bunga mawar, dihargai Rp.1000,- disini.

wisata-petik-mawar-mawar-merah
Mawar merah
wisata-petik-mawar-mawar-hijau
Mawar hijau bukan putih
wisata-petik-mawar-pink-rose
semacam pink tapi cerah

Setelah cukup lama ngobrol ngalor ngidul, kami mengakhiri kunjungan tempat ini. Dengan beberapa goresan duri mawar di kaki, dan tentu saja pengetahuan soal mawar.

Sebelum pulang kami mampir ke salah satu florist di desa ini. Seperti penuturan dari pak tani, beberapa bunga mawar memang dijual Rp.1000,-, namun beberapa varietas terkadang dihargai dari 1500,- hingga 3000,- hal ini ditentukan dari panjang nya tangkai mawar. Selain itu di florist ini juga menjual beberapa rangkaian bunga warna warni, tidak hanya mawar. Harganya pun macam- macam, dari Rp.50.000, hingga ratusan ribu.

wisata-petik-mawar-pemilik
Nah, ini pemiliknya
Keren kan bunganya - gambarnya mbak
Keren kan bunganya – gambarnya temen saya

Masing-masing dari kami membeli 2 mawar dengan masa bingung memilih yang lumayan panjang. Hal ini lantaran sangat bervariasinya bunga. Tak disangka ternyata salah satu pemilik  kebun dilokasi malah sedang asik berjualan di tempat ini. Beliau menawari kami untuk kembali ke ladang memetik sesuka hati, dengan harga sesuai. Tapi karena sudah sore kami menolaknya.

Sekedar info, Untuk rangkaian bunga yang cukup besar, menurut penjual hanya 200 ribu saja udah dapet kok. Jika bingung pun katalog sudah disediakan untuk dipilih pembeli.

Sebenarnya saya juga cari bunga desanya, tapi memang belum rejeki aja kali ya. Jadi masih belum ketemu. 😀

Alternatif Wisata Petik Apel di Kota Wisata Batu

Salah satu wisata yang belum saya begitu kenal di batu adalah wisata bertema petik hasil bumi, Misalnya saja apel, strawberry maupun bunga atau madu. Hal ini menjadikan salah satu ide baru ketika beberapa teman mengajak jalan – jalan. Agro wisata hanya ada dipikiran saya sebelum melakukan kontak pada salah satu teman domisili batu. Pemikiran ini pun berubah setelah teman domisili batu mengkonfirmasi untuk lebih memilih wisata petik apel milik swadaya warga dibanding dengan Agro wisata. Sesuai dengan jadwal, bersama teman mengajak jalan kami berangkat menuju Kota batu dari Kota malang pagi hari.

Dari keterangan teman domisili batu, wisata petik apel milik warga ini terletak di sepanjang jalan menuju Selecta dengan tanda banner kecil sepanjang jalan. Sebenarnya sempat takut nyasar sih, tapi kenyataannya begitu menyusuri jalan banner ini sangat mudah ditemukan. Sekedar info, bahwa jalur ke selecta ini sebenarnya merupakan jalur menuju Cangar atau jalan pintas menuju Mojokerto.

Setelah melalui pilah dan pilih tempat petik, Saya memilih tempat bernama kebun lulu untuk dikunjungi. Jika dihitung dari kota, Kebun lulu ini adalah lokasi petik apel terakhir. Jaraknya lumayan lah dari kota. Lokasinya lebih masuk kedalam pedesaan sekitar 1km dari jalan raya, namun di pinggiran jalan raya terdapat calo yang mengantar kami. Dalam perjalanan 1km ini, kiri kanan kami merupakan kebun apel. Meskipun saya tidak tahu jenis varian apel tersebut, saya menyimpulkan secara brutal bahwa apel ini memiliki tipe yang sama. Sama sama enak dimakan. 😀

wisata-apel-tiket-sederhana
Tiket nya masih gini banget

wisata-petik-apel-gersang
gersang pohonya rumputnya enggak

Begitu sampai, kami membayar tiket petik apel seharga 30 ribu. Yap. dengan 30 ribu, bisa makan apel sekenyang perut asalkan ada dalam kebun dan berlaku hanya sehari. Jika dibawa keluar maka harus bayar, 2.5 kg harganya 30 ribu juga. Saat itu kami tidak ngobrol terlalu lama dengan penjaga, yah dalam bayangan sih lokasinya luas. Kenyataannya tidak seluas bayangan kami, namum masih tetap luas. Sesuai dengan penjelasan dari penjaga bahwa ada apel yang baru saja diberi pestisida untuk mencegah hama, sedangkan sisanya kebun apelnya itu sedang tampak gersang.

Karena memang ini bentuknya adalah kebun, maka fasilitasnya adalah kebun. Tidak ada kolam renang, tidak ada tempat duduk, bermacam serangga tersedia, setidaknya Saya sudah bertemu nyamuk dan ulat. Tapi alhamdulilah masih enak saja main ke kebun apel, maklumlah emang orang desa. Untuk memudahkan membawa apel, kami dibekali sebuah kantong kresek. Nyatanya benda ini menjadi alas duduk dalam kebun, bukan sebagai tempat membawa apel.

wisata-apel-apel-sendiri
apel sendiri, hijau.

Jika membahas jenis apelnya tersendiri, setidaknya ada 2 macam apel. Yang tidak terlalu besar, agak manis dan lebih sulit digigit. Saya tidak tahu dengan jelas apa namanya, tapi kurang lebih itulah kesimpulan saya setelah memakannya.

wisata-apel-apel-nana
ini agak kuning, keliatan kan kuningnya?

kemudian satu lagi menurut teman mengajak jalan namanya adalah apel nana, beberapa apel lebih besar, lebih empuk dagingnya, warnanya lebih kuning, serta lebih masam rasanya dibanding varian pertama.

Memang sih ndak ada apel yang sempurna, ada yang empuk tapi ndak begitu manis, ada yang lebih keras tapi manis. Tapi intinya perjalanan ini tetap menyenangkan, meskipun saya digigit nyamuk dan mules setelah keluar kebun karena kebanyakan makan apel. Anyway, ada saran lagi soal wisata petik petik hasil bumi di kota lain gak ya?