Dari Kopdar ke Kopdar

Hampir seminggu sudah dan Saya berdiam diri dirumah saja, tidak seperti biasanya yang lebih banyak menghabiskan waktu di kota atau di jalanan. Nganggur? Enggak juga sih, tapi emang kebutuhan di kota terpotong lantaran liburan. Sehingga mau tidak mau, rumah menjadi tempat persinggahan paling nyaman. Secara tidak sengaja dan juga memang bosan, Saya mengumpulkan beberapa jadwal acara untuk hari minggu. Yang rencananya akan saya ikuti sebagai salah satu cara refreshing sekaligus belajar dan tentu saja menjaring pertemanan.list acara tersebut berisi antara lain: Kopdar dengan komunitas tumblr(@KITAJatim), kelas netiquette (@AkberMlg), dan pagelaran seni topeng di pakisaji.

Dalam list yang Saya buat, ketemu jadwal acara yaitu dimulai pada jam 15.30. yaitu bertemu dengan teman-teman komunitas tumblr. Tidak ada acara resmi atau apa sih, cuma sekedar kopdar. misi saya di kopdar ini adalah belajar dasar seni menulis huruf, biasanya dikenal dengan nama lettering. Lewat guru besar lettering Malang mas @dimazfakhr, saya menimba ilmu dasar soal lettering yang secara umum bisa dijabarkan hingga 2 jam kurang lebih. Saya tidak berdua saja dalam kopdar ini, ada @geserdikit, @lutfiavilian, @tyasiyess, @ayisafarilah, @fwri, @koko, dan @temannya-geserdikit.

kopdar tumblr
Tim lengkap kopdar awal


Lewat kopdar ini Saya mengenal beberapa kosa kata baru, semisal serif type, sans type, script type, ascender, descender, swash dan lain sebagainya. Penjelasan demi penjelasan, Saya berusaha pahami dengan keras dan garuk-garuk kepala. Karena bagaimanapun dalam dunia persilatan ini Saya belum banyak membaca, lebih sering menggambar sekarepah dibik. Gambaran Saya memang nggak terlalu bagus sih, bahkan bisa dibilang jelek tapi setidaknya bisa menjadi wahana untuk tidak selalu berada di depan komputer. 😀

Inti dari pelajaran lettering adalah latihan, latihan, latihan! Selain itu juga seenggaknya tahu aturan dasar dari tipe huruf yang akan digambar, secara simpel bisa Saya katakan seperti itu. Sebenarnya dalam kopdar itu juga terdapat pembahasan lain semisal kaligrafi, lettering tools dan beberapa lainnya. Yang jelas buat awal penting harus ada niat, kalo tanpa niat bakal males kan buat latihannya. Saya mengakhiri pertemuan lebih cepat, semoga saja bisa disambung lain waktu. Dan berlanjut meneruskan agenda pada kelas Nettiquette-nya Akber Malang.

Saya cuma murid Akber saja, tapi karena kebetulan menjadi figuran untuk menyalakan proyektor walhasil saya hadir tepat waktu. Jam 18.25, Saya memparkir motor di lokasi kelas akber malang. Juara! Juara hadir nomer 5 lah setidaknya, sudah ada beberapa panitia di lokasi. Waktu berselang, satu persatu kemudian peserta datang dan tentu saja kelas dimulai. Dalam kelas ini terdapat beberapa praktisi sosial media di wilayah malang raya, tentu saja tidak dalam rangka komparasi follower. Tapi bagaimana membahas etika bersosial media, baik cara mengkritik, cara baper positif, lakukan dan jangan lakukan di sosial media.

Kelas Akber Malang
Udah jelas kan slide nya bahas apa?


2 jam, 4 pemateri. waktu yang terlihat panjang dalam tulisan, tapi dalam ruangan itu akan sangat berbeda. Beberapa peserta yang hadir pun juga merupakan admin dari akun-akun penting di Malang Raya. Wah, bagi saya yang bukan apa-apa, minder iya, sungkan iya, merasa bingung iya, tapi toh dalam rangka belajar kan semuanya sama? Iya nggak sih? 😀

Materinya emang apa Al? Bisa sih ditulis, tapi saat dikelas saya nggak mencatat pun juga nggak ngetwit. Tapi hal yang saya ingat dari pertemuan itu adalah:

“Media sosial itu berlaku seperti halnya dunia nyata, dianggap serius atau enggak itu keputusan masing-masing..”

Untuk yang pengen tahu maksudnya apa dan anu-nya gimana, kontak aja sama pembicara waktu itu. Bisa jadi lewat direct message(DM) atau lewat email. Salahnya sih gak hadir kemarin, kemana aja coba minggu malam? Kan udah tau besok Senin. Lho curhat.. Baiklah. Acara selesai hampir jam 10.00, tapi saya sampai di rumah hampir jam 11. Maklum, pemilihan jalan menjadi pertimbangan utama.

Kopdar ke kopdar
Dapet oleh oleh kaos, gantungan kunci, cd, dan ilmu baru.

Dua acara bisa saya hadiri, dua lainnya tidak. pertunjukan tari topeng malangan dan sarasehan pameran foto ngadas. ke 4 acara ini adalah acara asik buat diikuti tapi apalah daya hayati, andai bisa jadi Naruto atau Meepo. Ah, salam super! Kalo misal yang baca nanti punya acara, kabarin aku ya. Kali aja bisa ketemuan gitu. 😀

Silahkan bongkar bongkar blog nya akber ya buat tau apa aja materinya, kan saya nggak nulis materi disini

 

Apa Masih Perlu Merayakan?

Malang masih panas seperti biasanya, hujan jarang turun akhir-akhir ini. Barangkali musim akan berganti dari penghujan menjadi kemarau, Barangkali sih, Saya belum melakukan survey juga. Seperti biasanya ketika sore-sore dalam hari libur, Saya memilih leyeh-leyeh, sambil chatting atau browsing. Hingga aktifitas ini kemudian berubah menjadi flashback karena pemberitahuan achievement dari WordPress. Yap! Ngeblog via WordPress sudah tahun ke 4. Saya sudah boleh masuk TK besar rupanya.
Continue reading “Apa Masih Perlu Merayakan?”

Sumbertaman, Sumber Air Untuk Renang!

Lalu apa yang diharapkan setelah selesai merampungkan laporan ilmiah? Barangkali plesir atau berkumpul bersama keluarga. Apalagi suasana liburan agak panjang di akhir minggu ini, 4 hari dalam seminggu. Lebih dari separuh minggu ini dinikmati dengan lengang di luar kantor. Tapi cuplikan itu cuma bayangan saja sih, sejujurnya Saya tidak merasakan, karena Saya masih menyelesaikan pengejaran pada seorang penguji.

Sesuai dengan perjanjian sebelumnya dengan pembimbing, pukul 11 siang harus sudah ada di gedung A untuk bertemu beliau bersama beberapa orang lain. Rencana di awal membahas tentang bagian dari tanggung jawab Saya, yang nyatanya merembet pada pembahasan wisata di sekitar lokasi rumah “eh saya kemaren dari Gondanglegi, selain sumber maron katanya ada sumber air lagi ya?” tanya pembimbing pada kami
“Iya ada, Sumber Sirah dan Sumber Taman”
“Sumber Taman?”Menurut Saya pribadi, tanya terakhir sebenarnya mengharuskan bagi Saya untuk menjelaskan lebih detil soal sumber taman. Continue reading “Sumbertaman, Sumber Air Untuk Renang!”

Wana Wisata Wendit, Wisata Kolam Mata Air Hingga WaterPark

Dikala banyak sumber air hits di Malang raya semisal sumber sirah, wendit masih belum kehilangan daya tariknya.

Wana wisata wendit ini terletak di kecamatan pakis, jika dari garis perbatasan kota dan kabupaten Malang mungkin hanya sekitar 3 km saja. Garis yang saya maksud adalah garis perbatasan dari kecamatan blimbing, bukan gadang. Jika dari pusat kota, Anda bisa menuju ke arah timur saja. Searah dengan perjalanan ke Bromo dengan menggunakan jalur poncokusumo. Landmark berupa kera putih besar bisa Anda temui di sisi jalan, ini adalah pertanda Anda sudah sampai di Lokasi wendit.Jika Anda menggunakan transportasi umum, gunakan angkot menuju arah terminal arjosari. Untuk selanjutnya berpindah pada angkot putih, Anda bisa saja turun di pertigaan blimbing atau di arjosari. Ketika sudah naik, bilang saja untuk turun di wisata wendit. Secara default supir angkot sudah akan mengerti tempat yang Anda maksudkan. Untuk tarif saya ngga bisa matok sih, pokoknya dibawah Rp.10.000,- untuk sekali naik. Jadi karena ini loper 2 kali, Anda harus bisa memperkirakannya.

Begitu sampai, Anda harus membayar tiket di loket. Nah, bagian ini saya juga kurang tahu. Karena dengan adanya penambahan wahana baru, saya kira harga tiket juga berubah. Untuk parkir sendiri, sementara ini masih 2000 untuk sepeda motor dan 5000 untuk mobil. Anda bisa parkir di pelataran, saya sarankan jika membawa sepeda untuk parkir di timur saja. Setidaknya buat saya lebih rindang pohonnya, jadi sepedanya tidak terlalu kepanasan.

Begitu masuk, Anda sudah di dalam wana wisata wendit. Ini jelas! 😀

wana-wisata-wendit-waterpark
Wendit waterpark
wana-wisata-wendit-mode-landscape
Kolam bukan tempat renang

Terserah Anda mau kemana dulu, bisa renang, bisa naik perahu bebek, bisa cuma nongkrong aja di taman. Sebenarnya di wendit yang sangat di utamakan adalah kolam sumber mata airnya. Biasa digunakan untuk renang sesuai dengan ukuran tinggi badan Anda. Mulai dari yang 1 meter hingga 2 meteran. Jadi, yang perlu disiapkan adalah baju ganti jika memang mau menikmati renang.

Lalu jika dengan anak kecil bagaimana? Akhir akhir ini di wendit baru saja dibangun waterpark, sehingga dengan berbagai fasilitas baru otomatis hal ini akan menyenangkan jika Anda membawa serta anak kecil. Tapi tentu saja dengan tiket tambahan untuk masuk ke lokasi waterpark. Jika Anda ingin hemat, ya silahkan sewakan saja ban di sekitar lokasi, dengan range harga 5.000,- Tentunya harus dengan pengawasan Anda.

wana-wisata-wendit-payung
Arena bermain anak kecil

wana-wisata-wendit-jembatan
Bukan jembatan cinta, serius bukan..

wana-wisata-wendit-kuil
Semacam panggung, tapi bukan panggung. Apahayo?

wana-wisata-wendit-monyet
DES!

Bagi yang nggak mau renang, ya silahkan jalan-jalan. Tapi perhatikan barang bawaan Anda, karena banyak kera di sekitar area ini. Beberapa oknum kera ini sering usil dengan mengambil paksa barang Anda. Tapi itu cuma oknum kok, banyak yang baik aslinya kalau dibaikin. Misal dikasih makanan atau apa gitu..

 

 

Grebeg Tengger, Upacara Adat Suku Tengger di Malang

Seperti yang pernah Saya tulis sebelumnya di salah satu paragraf tentang Malang Raya, bahwa banyaknya pilihan soal wisata. Pun juga soal budaya! Mungkin selain tentang pentas teater, Anda akan menemukan upacara adat. Misalnya saja,  kemarin Saya sempat tahu info dari salah satu grup tentang akan diadakannya acara grebeg tengger tirto aji di wana wisata wendit.

Grebeg tengger tirto aji ini sebenarnya merupakan acara untuk mengucapkan syukur kepada pencipta atas limpahan nikmat yang diberikan dalam satu tahun. Secara umum pesertanya merupakan warga suku asli tengger, yang mana suku ini tersebar di beberapa wilayah kabupaten yaitu Kab. Malang, Kab. Lumajang, dan Kab. Probolinggo. Dalam acara ini terdapat beberapa prosesi, untuk di Wendit sendiri meliputi arakan tari, lalu pembacaan do’a, pengambilan air suci dan dilanjutkan dengan grebeg tumpeng. Sedang menurut salah satu bapak yang Saya tanyai, untuk disekitar ngadas dan wilayah bromo sebelum berangkat ada upacara ceremonial tersendiri.
Sesuai dengan informasi, acara grebeg tengger akan dilaksanankan di wana wisata wendit pukul 08.00. Saya sudah ada dilokasi sejak pukul 07.45 dan ternyata acara molor hingga pukul 09.00. Tidak ada masalah sebenarnya dengan kemoloran ini, maklum ternyata hal ini dikarenakan jarak dari peserta yang cukup jauh dan macet nya perjalanan dari lokasi peserta menuju ke lokasi pelaksaanaan acara. Di sela waktu yang lumayan jauh tersebut saya habiskan dengan berkeliling sekitar wendit, maklumlah hampir 3 tahunan tidak melakukan akses pada lokasi ini. Dan kesimpulannya mungkin akan saya tulis pada bagian lain. 😀

Nah, sampai akhirnya secara tidak sengaja menemukan tempat persiapan dari para penari yang nantinya akan tampil dari acara. Dan tentu saja foto-foto sebentar.

Grebeg-tengger - pre-pentas-tari
pre pentas tari

grebeg-tengger-berbagai-macam-tumpeng
Berbagai macam tumpeng

Karena lokasi persiapan penari agak nylempit, membuat saya hampir ketinggalan rombongan yang membawa arak-arakan tumpeng.

Saya bergegas menuju rombongan grebeg tengger yang baru saja datang dari lokasi masing masing, yang saya lakukan adalah mengambil gambar untuk koleksi pribadi saja. Sebentar waktu saja berjalan, Hingga akhirnya saya bertemu dan ngobrol panjang lebar soal upacara ini dengan salah satu peserta. Namanya pak suwoto. Dalam pembicaraan itu beliau menjawab banyak pertanyaan saya, termasuk juga menceritakan bahwa sebenarnya ada hubungan yang tak bisa dijelaskan antara wendit dan wilayah suku tengger. Misalkan saja ketika di wilayah tengger kekeringan, air di wendit akan tercium bau bunga. Barangkali penjelasan ini yang kemudian sulit dijelaskan. Sebagai bagian masyarakat modern, saya antara perasaan percaya dan tidak percaya 😀

Upacara grebeg tengger ini dilaksanakan sesuai dengan perhitungan dari suku tengger, soal tanggal ini agak membingungkan. Saya sendiri lupa ketika acara ini dilangsungkan dalam bulan apa dalam perhitungan masyarakat tengger. Nama bulan berbeda, barangkali salah satu penyebabnya. Sebenarnya ada banyak macam upacara kebudayaan yang biasa di lakukan oleh suku tengger. Tapi yang jelas spoilernya kalo tidak salah akan ada upacara di bulan syawal nanti lokasinya di bromo. Saya datang? entah melihat situasi dulu.

Arakan berbagai macam tumpeng mengawali rangkaian acara grebeg tengger ini, ada yang berbentuk nasi kabuli, buah-buahan dan sayuran. Arakan ini menuju pendopo di wendit. Seperti biasa ada pembukaan dari panitia yang berhubungan, lalu doa. Selesai itu barulah muncul para penari “bedoyo lok suruh”. Saya kurang tahu soal tari ini, karena memang tidak dimungkinkan bertanya pada penarinya di awal tadi. Yang jelas penari terdiri dari 9 orang, 1 pangeran, 1 kera putih, dan 7 mbak mbak cantik dengan kostum mejikuhibiniu(tahu kan ya? merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila, ungu). Saya favorit sama mbak yang warna hijau dan biru. 😛

grebeg-tengger-7-penari-favoritmu
Jadi, Favorit yang mana?

Setelah menari dengan indah di pendopo, rombongan penari ini menuju sendang widodaren bersama suku tengger yang membawa arakan tumpeng tadi. Dalam ritual ini, terdapat dukun tengger membacakan semacam doa dalam bahasa jawa yang belum saya pahami. Dilanjutkan dengan pengambilan air dari sumber dengan kendi oleh 7 mbak mbak tadi, untuk kemudian digunakan sebagai salah satu syarat dalam upacara ini. Setelah air selesai diambil, barulah tumpeng kemudian diperebutkan oleh seluruh peserta dalam grebeg tengger. Walaupun saya sangat dekat dengan tumpeng, saya nggak dapet apapun. Kelihatanya saya nggak diberkahi di acara itu deh. Baiklah..

grebeg-tengger-dan-tumpeng-nasi-kebuli
tumpeng nasi kebuli, setelah digrebeg

grebeg-tengger-suasana-berebut-tumpeng
suasana berebut tumpeng

Acara penutup sebenarnya adalah larung, namun karena sangat tidak mungkin larung dilakukan di wisata wendit. Bebek dijadikan ganti larung ini. Ketika dilepas, dan menjadi tontonan baru bagi peserta. Kenapa? lha bagaimana ada beberapa anak kecil berkejaran dengan bebek tadi di wendit, renang mengitari wendit. Tentu saja barang siapa bisa mendapatkannya akan dapat bebek goreng gratis. 😀

grebeg-tengger-larung-bebek-warna-putih
Berburu bebek! wk wk wk

grebeg-tengger-hiburan-tayub
Tayub, sudah tahu apa itu?

Saya anggap sampai larung tadi, acara sudah selesai. Saya meninggalkan wendit dengan perasaan bahagia. Meskipun kemudian ada hiburan berupa tayub tradisional, yang saya acuhkan. Meskipun para peserta dari tengger masih makan, dan saya nggak dapet. Meskipun mbak hijau sudah dijemput mas nya. Duh! Saya tetep pulang…

 

Pantai Sendiki, Pantai Baru dekat Sendang Biru

Lokasinya tidak jauh dari pantai sendang biru, pantai baru ini masih belum genap berumur satu tahun sejak di bukanya untuk umum. Namanya pantai sendiki, pantai dengan pasir putih dan beberapa batu berkolaborasi epik sehingga menimbulkan pengalaman tersendiri ketika ke tempat ini. Belum lagi tawaran soal pemandangan ayunan di dalam lokasi, lumayan worth it-lah istilahnya untuk foto instagram.Dan ini ada perjalanan saya menujunya.

Awal perjalanan dimulai dari bululawang, saya berangkat bersama 13 orang lainnya menuju pantai ini. Yah, itung-itung reuni bareng temen SMA, setelah sekian lama tidak bertemu. Sudah direncanakan dari awal bahwa kami akan menginap satu malam di lokasi yang di maksud, entah ketika disana hujan apa tidak. Jadi, kami sudah mempersiapkan meliputi tenda, makanan, dan kebutuhan lain untuk menunjang menginap satu malam di pantai sendiki.

2 jam perjalanan kurang lebih kami lampaui untuk sampai di pantai sendiki, dengan menggunakan jalur arah pantai sendang biru. Untuk sampai di pantai ini, ikuti arah menuju pantai tamban. Jadi, Pantai sendiki ini sebenarnya ada di sebelah timur pantai sendang biru. Sebelum sampai di pantai, kami singgah di salah satu rumah saudara teman dalam rombongan. Tentu saja, lewat hal ini ada kabar baik. Kami bisa masuk lokasi tanpa dipungut biaya, Alhamdulilah rejeki anak baik.

Pantai Sendiki - Kita Nikmati sendiri
Kami nikmati sendiri

Sesungguhnya untuk masuk pantai sendiki dipungut biaya Rp 15.000,- dengan rincian, Rp 5000,- untuk parkir dan sisanya untuk registrasi. Kami parkir agak di depan, karena saat itu workday jadi pantai bisa dikatakan sangat sepi. Perjalanan dimulai ketika sore hari, jadi tepat pukul 18.00 kami sampai di lokasi. Ransel segera kami unpack, dan tenda didirikan. Sisanya bersiap dengan perbekalan makanan yang sedari tadi kami bawa, ikan ayam yang harus di panggang, sambel, dan tentu saja bumbu untuk jagung bakar.

Malam kami berjalan seperti biasanya, hingga kemudian ada beberapa penduduk sekitar yang ternyata berjaga di bibir pantai. Pemandangan ini yang kemudian jarang saya temui ketika saya camping di pantai lain. Dengan adanya penjaga ini, sebagai tamu kami merasa aman. Toh kami kan punya iktikad baik, bukan mau mesum. 😛 Jadi buat kami sangat senang dijaga oleh penduduk sekitar. Selain itu keramahan penduduk juga sangat kami rasakan, kami ngobrol sana sini soal kondisi masyarakat, perkembangan pantai dan lain sebagainya. Dan kurang lebih berikut adalah resume dari ngobrol saya semalaman:

  • Jadi sebenarnya untuk camping di pantai sendiki Anda tidak perlu membawa tenda. Kenapa? karena di pihak pengelola pantai sendiri, sudah menyediakan penyewaan untuk tenda. Untuk sewa tenda saja berkisar 25 – 30 ribu, tergantung ukuran tendanya. Juga untuk Anda yang memang tidak bisa mendirikan tenda, Maka pihak pengelola juga bisa mendirikannya, untuk paket lengkap kalau tidak salah dengar sekitar 60 ribu. Dan saya merasa menyesal bawa tenda, karena selain berat juga menghabiskan space untuk tas. 😀
    pantai-sendiki-tenda-camping
    Tenda camping

  • Lalu untuk fasilitas pantai sendiki sendiri, kurang lebih sudah lumayan ada. Ketika saya kesitu sudah ada 3 ruang kamar mandi, dan 1 mushola. Juga Pos pantau di pantai, eh ini kan fasilitas ya pos pantau? Tapi meskipun begitu penerangan di pantai sendiki, masih kurang memadai. Entah karena kabel listrik yang belum sampai atau bagaimana, yang jelas pihak pengelola masih memanfaatkan tenaga matahari untuk menyalakan lampu. sarannya jika mau menginap, bawalah senter jika ke kamar mandi takut lampunya mati sendiri.
    Pantai-Sendiki-kamar-mandi
    kamar mandi, udah ada lampu dengan penerangan seadanya

  • Pihak pengelola sebenarnya adalah penduduk sekitar berkolaborasi dengan pihak perhutani, dengan model bagi hasil untuk tiket. Dari percakapan yang saya dengar, modal bagi hasil ini memiliki nilai yang kecil dibanding milik perhutani. Pada paragraf ini saya merasa bersalah karena masuk ke tempat ini tidak membayar tiket, sebenarnya diterangkan secara detail oleh bapaknya tapi diposting ini tidak mungkin saya tuliskan. Intinya adalah monggo manfaatkan fasilitas dan area wisata nya sebaik mungkin, tapi jangan lupa konservasi itu tidak gratis. Butuh tenaga, waktu, dan biaya.
    pantai-sendiki-dan-lampiran-peringatan
    Lampiran peringatan pengelola

  • Jika suasana pantai sedang sepi seperti ketika saya disana, amankan barang bawaan dari jangkauan binatang. Terkadang jika beruntung ada binatang liar yang berkunjung, saya saja bertemu dengan biawak(semoga tidak jadi Godzilla)
    pantai-sendiki-hewan-liar
    Nyambek! Biawak!

Tulisan ini sangat global sekali memang, bukan karena apa. Perbincangan nya panjaaaang, itulah yang menjadi alasannya.

Barangkali perbincangan ini juga memang beralasan, bagaimana tidak karena kami beruntung ketika camping di pantai sendiki, kami terkena badai. Angin berhembus kencang hingga mampu menerbangkan pasak-pasak tenda. Suasana mencekam, saya cuma berdoa biar ngga tsunami aja. Badai berlangsung kurang lebih satu jam, dan satu jam itu saya cuma dipojokan tenda. 🙁


Pantai sendiki - Sunrise
Sunrise cuma bonus, Camkan!


Pukul 04.30 saya sudah bangun. Langsung nenteng kamera, mau liat sunrise di pantai. Dan ternyata, sunrise cuma bonus itu bukan hoax. Mendung menghalangi indahnya sunrise, dan saya gak kebagian bonus. Tapi nggak papa deh, kali aja pas kesana lagi bisa lihat. jadi, kapan kesana lagi?

Mbulan Ndadari Ri Badut, A Heritage Perform Art in Malang

Kamis, 24 Maret 2016 bertepatan dengan purnama ke-1 (Purnama kasidi), ketika sang candradewi (rembulan) tampil dengan sosok sebagai bola cahaya yang bulat penuh (mbulan ndadari). Bertepatan dengan “Momentum Malam Terindah” ini, di pelataran Candi Badut dihelat seni pertunjukan oleh lintas komunitas dan pelaku seni-budaya Malang Raya dan beberapa kontributor “Tamu” dari Tulungagung. Pilihan waktu bertepatan dengan bulan purnama dan Candi Badut sebagai ajang ekspresi seni-budaya itulah yang melatari penggunaan istilah “Mbulan Ndadari Ri Badut” sebagai tajuk agenda bulanan yang malam ini adalah perdana. Status, budaya situs badut sebagai cagar budaya (heritage) itu pulalah yang menjadi inspirasi untuk memposisikan perhelatan budaya ini sebagai suatu bentuk “Heritage Perform Art

Sengaja situs Candi Badut digunakan sebagai ajang kegiatan seni-budaya, guna menguatkan makna dan fungsi kultural, edukatif dan rekreatif terhadap mahakarya monumental kerajaan Kanjuruhan (medio abad VIII masehi). Kendati situs ini berada di wilayah kabupaten Malang (desa yang berlokasi di desa Karang Widoro, Kec Dau), Namun posisinya tepat berada di perbatasan dengan kota Malang(sekitar 3 km dari pusat Kota Malang), sehingga dapat dijadikan “situs bersama” Malang Raya, Yang relatif mudah dan dekat untuk diakses baik oleh warga Malang maupun wisatawan luar daerah dan mancanegara. Sejauh ini candi tertua di Jawa Timur belum didayagunakan secara optimal dan bijak untuk keperluan ilmu pengetahuan, edukatif, rekreatif maupun ritual. Perhelatan ini bukan saja diharapkan dapat menggaungkan publisitas situs yang posisinya kian terjepit oleh areal permukiman, namun sekaligus memberikan kontribusi bagi penguatan dan kebermanfaatan kesenian lokal maupun anasir budaya nusantara, Utamanya berbasis tradisi.

Selaras dengan itu, maka sajian seni-budaya pada “Mbulan Ndadari Ri Badut” ini dikonsepkan sebagai tontonan sekaligus tuntunan. Nuansa natural menjadi dasar tembingan untuk mengemas sajian seni-budaya ini “jauh dari hingar-bingar”, lantaran aspek kesyahduan, keindahan yang alami dan kebermaknaan menjadi keutamaan. Satu ajang ekspresi seni-budaya pada heritage dijadikan acuan untuk memfungsikan situs bagi kepentingan masa kini tanpa harus mengorbankan kelestarian dan hakekat kultural yang dikandungnya.

*dikopi tanpa ijin dari pers-release dan diterbitkan oleh saya. Kalau ada yang merasa dirugikan mohon komentar ya nanti akan dihapus.

Buat Saya, ini adalah terapi pengobatan kangen. Setelah sekian lama lupa rasanya pentas. 🙂

Berikut adalah foto acaranya, diambil dari photo nya mas Abevot

Heritage Perform Art In Malang
Teatrikal puisi dari mas bejo slankers dan kolaborasi dari teman tulungagung

 

Heritage Perform Art In Malang
Seorang Aktor Utama

Bagi yang pengen tahu suasana musik nya boleh lah liat video dari pak yongki ini :

Belajar Gak Minder di Halaqah Senja #kopdarBlogger

kopdarBlogger - Suasana Halaqah senja
Suasana Halaqah senja

Setelah ikut acara #kopdarBlogger di Solo, Saya makin bingung soal dunia per-blogging-an. Mungkin kata yang tepat bukan bingung tapi lebih tepatnya minder, tapi juga banyak bersyukurnya sih. Alhamdulilah Saya masih diakui blogger, setidaknya dari namanya #kopdarBlogger tentu saja yang hadir adalah blogger. Saat acara itu saya peserta, jadi dari kalimat sebelum ini merupakan kesimpulan premis. Meskipun masih karbitan kemarin sore.
Ngomong – ngomong soal acara kemarin itu, Saya minder. Utamanya di bagian inisiatif, rasa sosial dan tentu saja karya. Eh ngomong apa sih? Intinya itu, Saya bukan apa apa dibanding peserta di acara itu. Gimana enggak minder, lha yang hadir disitu sekelas om @didinu, Pakde @blontankpoer, Mas @lantip, mas @AgusMagelangan dan sekian blogger hebat lain yang tidak mungkin Saya sebut satu persatu. Kancah nya didunia per-blogging-an tak perlu lagi di ragukan. Di bagian karya? Siapa yang nggak kenal beritagar.id atau kateglo? Lha Saya apa? Hello World aja tanda serunya masih belum muncul.Barangkali buat peserta selain Saya, #kopdarBlogger adalah momen mengenang. Mengenang masa kejayaan blogger masa lalu, reuni seperjuangan di jagat internet. Tapi buat Saya pribadi, sejujurnya momen ini adalah masa mengenal juga belajar. Mengenal bagaimana keramahan mereka di dunia offline serta belajar untuk tetap konsisten nge-blog dengan caranya sendiri. Dan kalo boleh mengucap Alhamdulilah lagi, Saya sangat berterimakasih pada konsepan usungan pakde @blontank sangat keren! Sebagai tim penggembira, Saya sangat senang hadir dan bercengkrama serta bertemu secara live. Entah itu sekedar teman menunggu pagi di RBI atau juga teman halaqah senja sambil menikmati gorengan. lha iya, penggembira aja seneng ra lumbrah.. 

Oh iya, kembali soal karya…

Sejujurnya di lokasi gelaran #kopdarBlogger tidak ada pembahasan sama sekali soal kemegahan karya masing-masing. Hampir kebanyakan adalah sharing bagaimana bertindak menjadi manusia yang lebih baik dan bermanfaat bagi lainnya. Saya mendengar dengan seksama, meskipun tidak semuanya tapi lewat sedikit mendengarkan di halaqah senja saya memiliki kesimpulan seperti itu.

Jika menanyakan secara global hasil apa yang didapat dari #kopdarBlogger ini, akses saja pada blog milik pakde blontank. Ada lengkap! Lalu, tulisan ini ada untuk apa? Tulisan ini menjadi sekedar tulisan pengingat saja, bahwa Saya pernah menjadi tim penggembira di #kopdarBlogger. Bertemu orang-orang hebat, meskipun saat itu belum menjadi seperti mereka.

Dan tentu saja jika boleh mengharap, semoga ada acara serupa yang entah kapan waktunya. Tapi semoga saja, ketika ada acara serupa setidaknya ada karya yang harus dibawa. Kenapa Saya harus bawa karya? Memantaskan diri saja, biar bahasannya nyambung. Baiklah, yuk berkarya lebih baik lagi. Siapa tahu nanti ada #kopdarBloggerDua Kan kamu nggak perlu merasa apa yang kurasakan. Jadi, ada ide karya untuk dibagi?

Mungkin informasi saja, dalam acara ini kami dari Malang juga sempat bawa drone untuk video. Sayangnya, baling-balingnya ketinggalan sehingga belum bisa terbang. Tapi video nya tetap jadi kok. Mas Yaniko adalah orang dibalik penggarapan video nya

4 Hal tentang Alun Alun Tugu di #malang102

Yang belum ke Malang, segeralah main ke Malang. Keburu gerbangnya ditutup! Jika masih bingung mau main kemana, tanyakan dulu sama hatimu. Mau mengunjungi tempat yang seperti apa? Karena di Malang, hampir segalanya ada. Mulai dari wisata alam, wisata spiritual, wisata budaya, hingga wisata sejarah. Eh, emang ada ya wisata sejarah di Malang?

Ada dong! Tenang ini bukan soal candi-candi an kok. Karena bukan hanya candi saja yang merupakan wisata sejarah di Malang, hampir ada banyak sekali. Namun untuk belajar sejaah sendiri, pada beberapa kesempatan memang dibutuhkan panduan dari orang yang lebih paham pada bidang sejarah ini.
Pada kesempatan ini, saya cukup berjalan di sekitar lingkungan Alun-Alun Tugu, dan ternyata banyak sekali cerita sejarah sekaligus filosofis. Ditemani pak Akbar, hampir lebih dari satu jam Saya mempelajarinya secara langsung. Berikut adalah hasil pertanyaan Saya soal Alun-Alun tugu:
Continue reading “4 Hal tentang Alun Alun Tugu di #malang102”

Andeman, Kebun Bambu Hingga Rawa Rawa

Saya ngga mau pindah lah dari Malang, jika situasinya akan terus seperti ini. Gemah ripah loh jinawi, segala hal ada dan mudah didapatkan. Mulai dari wisata, budaya, bahkan cinta, ah.. baiklah.

Abaikan sebentar soal cintanya Nah, ngobrol soal wisata lagi aja. Kalau boleh dibilang, setelah era media sosial ini banyak sekali bermunculan tempat-tempat asik untuk mengabadikan momen dalam format JPEG. Salah satunya adalah Andeman. Berdasarkan penjelasan dari blog perangkat desa sanankerto, Andeman adalah tempat pemandian yang muncul dari sumber mata air. Selain itu juga menawarkan lokasi kebun bambu, sebagai tempat jalan-jalan.

Tapi buat Saya sebenarnya Andeman adalah rawa-rawa yang dikelola, simple nya seperti itu. Lokasi Andeman ini berada di desa Sanankerto, kecamatan Turen. Sekitar 15 – 20 Km dari kota Malang. Bagi Anda yang ingin mengaksesnya, terdapat 2 pilihan yaitu dengan menggunakan kendaraan umum dan menggunakan kendaraan pribadi. Jika Anda menghendaki menggunakan kendaraan umum, akan sangat relatif menyesuaikan darimana Anda memulai. Baiklah, asumsikan berangkat dari Stasiun Kota Baru. Anda harus sampai dulu di terminal Gadang, menggunakan angkot yang tersedia. Silahkan memanfaatkan fitur GPS(Gunakan Penduduk Sekitar) agar tidak nyasar. Jika sudah sampai di terminal Gadang, gunakan bis atau semacam bis mini menuju arah dampit. Bilang pada kondektur atau bapak supir, untuk berhenti di pasar Turen. Jika sudah turun di pasar Turen, silahkan naik Angkot untuk menuju Wajak. Ya mau tidak mau, desa Sanankerto ini merupakan desa perbatasan antara kecamatan wajak dan kecamatan turen. Bilang turun di perempatan sananrejo, lalu silahkan menggunakan ojek sampai di lokasi.

Ribet? Banget! 😀

Main di Malang - Andeman - Kolam Utama
Andeman dan pemandangannya

Main di Malang - Andeman - Gerbang Lokasi
Andeman – Gerbang Lokasi

Saya menyarankan menggunakan kendaraan pribadi, atau jika tidak punya gunakan teman atau gebetan Anda untuk mengantarkan. Kemungkinan hemat dan sampai tujuan tanpa ribet bisa meningkat hingga beberapa kali lipat lebih mudah. Ah, ini guyon kok tapi nyata. 😀

Untuk kendaraan pribadi, arahkan saja tujuan Anda pada masjid tiban di sananrejo. Lurus ikuti jalan, hingga bertemu lokasi yang dimaksud. Sekedar saran, karena lokasi yang lumayan agak masuk ke dalam desa dan sulit sinyal, Jangan pernah malu bertanya jika Anda merasa tersasar.

Ketika sampai di lokasi, ini yang saya lakukan:

  • Membayar retribusi parkir dan masuk. Sejujurnya saya lupa, tidak mahal kok. Tidak sampai Rp. 10.000.
  • Menuju ke lokasi kebun bambu yang sangat luas(kurang lebih 25 Hektare), tapi tidak sampai menjelajah ke dalam. Hanya di tepian kebun bambu saja, melihat beberapa penduduk sekitar memancing di rawa-rawa luar kolam utama Andeman.
    Main di Malang - Andeman - Kebun Bambu
    Andeman – Kebun Bambu

  • Setelah selesai di kebun Bambu, Saya ke tepian kolam utama karena penasaran dengan bambu yang tertancap di pinggiran kolam. Sebenarnya saya memiliki asumsi bahwa kolam buatan ini sebenarnya merupakan ‘urukan’(timbunan tanah). Dan ternyata benar, walhasil saya terperosok ke ‘endut’(semacam tanah liat). Beruntunglah, saya tidak sampai tercebur. 😀
    Main di Malang - Andeman - Pasak Bambu
    Andeman – Pasak Bambu lokasi Saya terperosok

  • Kaki kotor tidak membuat kemudian saya malu, dengan bangganya masih jalan-jalan ke pulau di tengah kolam utama. Pulau putri sekarsari, namanya. Dalam pulau ini, berisikan taman bunga yang masih belum tumbuh sempurna. Beberapa tempat duduk berhadapan pun juga tersedia, sayangnya saya tidak bisa duduk karena basah air hujan belum kering.
    Main di Malang - Andeman - Semacam Gazebo - 1
    Andeman – Semacam Gazebo

  • kolam renang menjadi tujuan saya selanjutnya, fikiran saya adalah “lihat dulu ah, kali aja nanti bisa main kesini lagi”. Eh, ternyata cuma buat anak kecil saja. Ya sudah gagal harapan saya, bersamaan dengan hujan yang lumayan deras kembali mengguyur.
    Main di Malang - Andeman - Kolam Renang Anak-Anak
    Kolam Renang Anak-Anak

  • Saya berusaha ‘Ngiyup’ tak lain adalah berteduh dari hujan, di warung warung sekitar lokasi. Lumayan banyak dengan sajian utama kopi sachetan dan beberapa mie instan. Tapi saya pesennya teh. 😀
    Main di Malang - Andeman - Warung
    Warung sekitar Andeman

Suasana masih mendung, hujan rintik. Keputusan pulang saya ambil dengan pertimbangan kehujanan dan kamera terkena air hujan. Saya bahagia bercampur kecewa setelah main ke tempat ini. Bahagia karena sudah ada langkah positif dari pemerintah setempat untuk mengorganisir wilayah dengan baik. dengan bukti adanya peresmian dari bapak bupati. Kecewanya adalah sampah, tetangga ini kok belum terlalu sadar yah soal buang sampahnya dengan baik. Akhir kata ada quote dari tulisan dilokasi.

Main di Malang - Andeman - Quote
Hai kamunya aku! :D

“Jagalah Andeman ini seperti kamu jaga dirimu”

Hai Kamu! Kamu udah bisa jaga diri gak?