Alternatif Wisata Petik Apel di Kota Wisata Batu

Salah satu wisata yang belum saya begitu kenal di batu adalah wisata bertema petik hasil bumi, Misalnya saja apel, strawberry maupun bunga atau madu. Hal ini menjadikan salah satu ide baru ketika beberapa teman mengajak jalan – jalan. Agro wisata hanya ada dipikiran saya sebelum melakukan kontak pada salah satu teman domisili batu. Pemikiran ini pun berubah setelah teman domisili batu mengkonfirmasi untuk lebih memilih wisata petik apel milik swadaya warga dibanding dengan Agro wisata.

Sesuai dengan jadwal, bersama teman mengajak jalan kami berangkat menuju Kota batu dari Kota malang pagi hari.

Dari keterangan teman domisili batu, wisata petik apel milik warga ini terletak di sepanjang jalan menuju Selecta dengan tanda banner kecil sepanjang jalan. Sebenarnya sempat takut nyasar sih, tapi kenyataannya begitu menyusuri jalan banner ini sangat mudah ditemukan. Sekedar info, bahwa jalur ke selecta ini sebenarnya merupakan jalur menuju Cangar atau jalan pintas menuju Mojokerto.

Setelah melalui pilah dan pilih tempat petik, Saya memilih tempat bernama kebun lulu untuk dikunjungi. Jika dihitung dari kota, Kebun lulu ini adalah lokasi petik apel terakhir. Jaraknya lumayan lah dari kota. Lokasinya lebih masuk kedalam pedesaan sekitar 1km dari jalan raya, namun di pinggiran jalan raya terdapat calo yang mengantar kami. Dalam perjalanan 1km ini, kiri kanan kami merupakan kebun apel. Meskipun saya tidak tahu jenis varian apel tersebut, saya menyimpulkan secara brutal bahwa apel ini memiliki tipe yang sama. Sama sama enak dimakan. 😀

wisata-apel-tiket-sederhana
Tiket nya masih gini banget

wisata-petik-apel-gersang
gersang pohonya rumputnya enggak

Begitu sampai, kami membayar tiket petik apel seharga 30 ribu. Yap. dengan 30 ribu, bisa makan apel sekenyang perut asalkan ada dalam kebun dan berlaku hanya sehari. Jika dibawa keluar maka harus bayar, 2.5 kg harganya 30 ribu juga. Saat itu kami tidak ngobrol terlalu lama dengan penjaga, yah dalam bayangan sih lokasinya luas. Kenyataannya tidak seluas bayangan kami, namum masih tetap luas. Sesuai dengan penjelasan dari penjaga bahwa ada apel yang baru saja diberi pestisida untuk mencegah hama, sedangkan sisanya kebun apelnya itu sedang tampak gersang.

Karena memang ini bentuknya adalah kebun, maka fasilitasnya adalah kebun. Tidak ada kolam renang, tidak ada tempat duduk, bermacam serangga tersedia, setidaknya Saya sudah bertemu nyamuk dan ulat. Tapi alhamdulilah masih enak saja main ke kebun apel, maklumlah emang orang desa. Untuk memudahkan membawa apel, kami dibekali sebuah kantong kresek. Nyatanya benda ini menjadi alas duduk dalam kebun, bukan sebagai tempat membawa apel.

wisata-apel-apel-sendiri
apel sendiri, hijau.

Jika membahas jenis apelnya tersendiri, setidaknya ada 2 macam apel. Yang tidak terlalu besar, agak manis dan lebih sulit digigit. Saya tidak tahu dengan jelas apa namanya, tapi kurang lebih itulah kesimpulan saya setelah memakannya.

wisata-apel-apel-nana
ini agak kuning, keliatan kan kuningnya?

kemudian satu lagi menurut teman mengajak jalan namanya adalah apel nana, beberapa apel lebih besar, lebih empuk dagingnya, warnanya lebih kuning, serta lebih masam rasanya dibanding varian pertama.

Memang sih ndak ada apel yang sempurna, ada yang empuk tapi ndak begitu manis, ada yang lebih keras tapi manis. Tapi intinya perjalanan ini tetap menyenangkan, meskipun saya digigit nyamuk dan mules setelah keluar kebun karena kebanyakan makan apel. Anyway, ada saran lagi soal wisata petik petik hasil bumi di kota lain gak ya?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *