Belajar Teknologi Informasi Bareng Ibu dan Teman-temannya

Melalui pengamatan Saya, hampir tidak ada masalah terkait teknologi informasi yang bisa dianggap mendesak di tempat Saya menetap yaitu kota Malang. Namun begitu kembali pada tanah kelahiran di kabupaten Malang, barangkali ada beberapa hal yang bisa diceritakan.

Hidup bersama kedua orang tua, sedikit banyak tentu terlibat dalam keseharian beliau. Memiliki ibu berprofesi sebagai guru raudhatul athfal (taman kanak-kanak) dan seorang ayah petani, merupakan salah satu kebanggaan dalam hidup. Selama masa menetap (5 hari dalam seminggu) habis bersama debu dan polusi kota Malang, tidak lantas membuat kegiatan berbakti menjadi berkurang.

Jadi di sela sela menjadi mahasiswa ilmu komputer, Selain bermanfaat bagi diri sendiri lewat cara ini pula tuhan menjadikan Saya untuk lebih banyak bermanfaat untuk lingkungan sekitar, utamanya keluarga. Yaitu menjadi salah satu instruktur pengajar untuk ibu dan teman-temannya . Yah memang sih, dari awalnya ibu dan temannya tidak tahu menahu soal teknologi. Jangankan memiliki email, berkirim pesan melalui WhatsApp saja kadang masih bingung. Tapi mau tidak mau, menjadi seorang guru ternyata dituntut untuk belajar dengan cepat banyak hal yang tak pernah ia pelajari di sekolahnya dulu. Perkembangan teknologi informasi yang menuntut setiap orang bisa mengefektifkan waktunya, nyatanya malah juga menjadikan ibu saya dan teman-temannya lumayan kerepotan.

Ibuk iki wes tuwek le, lek nguruki kalem kalem
nggeh

Jawab Saya kala itu sedang mengarahkan beliau untuk menggerakkan kursor pada editor teks pada komputer jinjing.

Ritme cara belajar bersama ibu secara berkelanjutan Saya pelajari, perlahan, sabar dan secukupnya. Perkiraan awal bakal menggunakan cara belajar bersama teman mahasiswa di kampus ternyata hal tersebut belum benar. Mulai dari membuka browser, mengarahkan kursor segalanya harus perlahan juga telaten. Padahal pikiran saat itu, ini kan butuhnya masih jauh bukan hanya berkenaan dengan mengetik bebas di editor saja, ada tahap menggunakan aplikasi untuk verifikasi dan validasi, ada pengiriman email, ada penggunaan rumus dan sebagainya yang berhubungan dengan komputer.

Jika boleh ditarik ke beberapa masa lalu, Saya masih ingat ketika membantu menjadi tukang antar kertas lebih mudah dibandingkan mengajari komputer saat ini. Meskipun mudah tapi lumayan repot serta menghabiskan waktu. Begini kurang lebih alurnya:

  • Teman ibu memberikan beberapa lembar kertas yang lumayan banyak untuk di isi secara manual. Kertas itu di isi sesuai dengan arahan dari temannya lewat salah satu contoh.
  • Kemudian ibu mengisinya sendiri, kadang ketika dirumah saya ikut membantu sih. Jika tidak dirumah, ibu dibantu 3 orang teman guru di raudhatul athfal. Baru kemudian diantar kembali ke titik awal.
  • Jika ditemui kesalahan, maka proses ini diulangi dari awal.

Mudah bukan? Buat Saya Mudah, tapi lumayan menghabiskan sumber daya waktu dan biaya. Bisa terbayang salah satu teman ibu ada yang jaraknya hingga 1 jam perjalanan dari rumah.

WhatsApp Image 2016-09-29 at 7.42.38 PM
Workshop dari fotonya ibu
WhatsApp Image 2016-09-29 at 7.42.41 PM
Sama sih, juga suasana workshopnya

Seiring waktu berjalan, barangkali pemerintah sadar akan salah satu masalah yang dihadapi para guru semacam ibu Saya dan temannya. Salah satu dari solusi dari pemerintah untuk para guru adalah dengan adanya pelatihan pada salah satu perwakilan dari tiap kecamatan. Pelatihan ini kurang lebih digelar dari pagi hingga sore menjelang.

Setibanya di rumah, ibu banyak bercerita kebingungan dari kata yang disampaikan oleh pematerinya. Lain kesempatan pada permasalahan yang sama, Saya harus melakukan penjelasan teknis komputer melalui telpon.

“Iya, klik di pojok… Lalu begini.. begitu. Setelah itu buka gambar kuning kotak di menu bawah”

Tidak ada dalam pelajaran komputer kuliah, tapi kefahaman yang dibutuhkan. Jadi, segala halnya improvisasi.

Buat Saya sih, adanya teknologi informasi ditujukan untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas kegiatan oleh semua elemen masyarakat yang terlibat didalamnya, tapi jika hanya berupa alat dengan kurangnya pemahaman tentang hal tersebut dari pengguna sendiri tentunya pencapaian yang didapat tidak terlalu optimal. Harapannya tidak lain adalah Keduanya harus memiliki porsi berimbang  baik dari segi pengadaan teknologi informasi serta pengetahuan tentang pemanfaatannya.

Jadi, bagaimana kabar perkembangan teknologi informasi di lingkunganmu?

5 Replies to “Belajar Teknologi Informasi Bareng Ibu dan Teman-temannya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *