Candi Njawar, Google, dan Masyarakat Sekitar

Jadi, karena kebetulan hari sedang cerah, saya menyempatkan diri ke candi njawar. terletak di kecamatan Ampelgading kabupaten Malang, daerah ini merupakan bagian paling timur dari kabupaten Malang. Sehingga berbatasan langsung dengan Lumajang. Secara detail, candi njawar terletak di desa Glidik (kurang lebih 5 – 10 km dari pasar Ampelgading ).

Pukul 9 pagi saya berangkat dari Bululawang, yang rencananya akan tiba disana maksimal pukul 11.30, perhitungan ditambah waktu nyasar sekitar 30 menit. Bukan karena apa, karena memang partner perjalanan ini merupakan seorang yang agak sedikit pelupa soal jalan. Meskipun, dia sebelumnya pernah ke Candi njawar.

Dari bululawang hingga pasar ampel gading, sesuai perkiraan. Namun, beberapa hal terjadi ketika kami mulai menapaki jalan menuju Candi.

Awalnya kami menggunakan layanan Google Maps, seiring waktu perjalanan biasa saja. Kami melewati beberapa jalan menanjak dan menurun, maklum daerah Ampelgading merupakan daerah perbukitan. Namun, semakin jauh laju sepeda motor, kami makin merasa ada hal aneh. Ya, perjalanan ini kemudian menuju ke jalan setapak yang hampir hanya cocok untuk jalan kaki. Google Maps kami tutup, lalu mengaktifkan fitur lain. GPS, Gunakan Penduduk sekitar. Beruntunglah, kami bertemu masyarakat yang tepat untuk bertanya.

candi njawar - kesasar
Jalan yang diarahkan oleh google maps

Beliau memberikan penjelasan yang meskipun kami masih bingung, tapi bisa disimpulkan yakni ada 2 macam candi di wilayah Ampelgading yakni candi Glidik (nantinya kami sebut njawar) dan candi purbakala. Kami sadar bahwa daritadi telah diarahkan menuju jalur yang salah oleh Google Maps.

Sesampai di bawah, selaku pemegang kendali motor. Saya bingung harus mulai berjalan kemana. Belum sampai jauh, kami bertanya lagi kepada penduduk dengan mendatangi rumahnya. Yap, memang tidak sopan, tapi suasana kampung kala itu sedang sepi. Jadi, ya mau tidak mau.

Seperti penjelasan awal, ada 2 candi. Namun, yang berbeda kali ini adalah penyebutannya. Yang kami tanyai menyebutkan villa dan candi purbakala. Saya menambahkan

engkang wonten cemarane niku
oh villa iku mas
lek purbakala pundi bu?
yo iki samean lurus” seraya menunjukan arah jalan menanjak

Ekspektasi saya di awal memang candi jawar ini merupakan semacam candi peninggalan jaman kerajaan dahulu kala, dimana akan terlukis relief yang nantinya akan menjadi oleh oleh hasil perjalanan saya kali ini. Pun dengan cemara keramat dalam khayalan itu. Sejauh itu saya berekspektasi.

Setelah hampir 3 km berjalan dengan rute separuh, separuh jalan baik bersemen dan separuh nya lagi jalan motor trail. Perjalanan saya sudahi, mau tidak mau. Jalan makin menanjak dan makin terjal. Perjalanan ini barangkali harus berakhir dan tidak sampai tujuan, saya berhenti sebentar di salah satu pertigaan jalan, menghimpun tenaga dan menyesali jarak yang telah terlampaui. Tak disangka, seorang mas-mas lewat dan setelah kami tanyai, beliau membenarkan bahwa jalan akan makin sulit. Namun, dari orang ini pula kami sadar, bahwa glidik harusnya menjadi tujuan kami sejak awal.

Kami tidak tahu desa glidik bisa diakses lewat mana, yang jelas saat itu kami harus segera turun dari tempat tadi.

Setelah dirasa jauh, kami kemudian menyempatkan bertanya lagi. Setidaknya, berharap menemukan titik terang dari jauhnya perjalanan yang dilalui. Pada pertanyaan kali ini, kami diarahkan lewat shortcut, jalan kecil yang barangkali hanya cukup untuk satu motor saja. Sebelum lanjut, kami berganti posisi. Saya kini menjadi navigator, menemukan njawar.

Saya tidak tahu pasti, yang jelas di jalan rujukan dari masyarakat tadi kami harus melewati pos tempat keranda, jembatan, dan musholla. Ah.. semacam game. Perjalanan tetap berlanjut, tempat keranda terlewati. jembatan hampir terlewati, namun kami menemukan 2 pasang muda mudi yang sepertinya juga menuju arah yang sama. Diawal sempat ragu, tapi akhirnya mau tidak mau kami pun membuntuti yang ternyata dugaan ini benar.

candi-njawar-tiket
Bayar tiket, buat kebersihan

Kami sampai, masuk bayar karcis. Yang konon kata partner saya barusan ini aja ada. Dulu gratis. pun melihat bentuk karcis, saya menduga ada yang tidak beres dengan tarikan semacam ini. hehe..
Tapi, bagaimanapun saya mendukung niat baik beliau untuk mau menertibkan segala keadaan sekitar, misalnya bersih bersih mushalla.

candi-njawar-dan-exploreer
Partner In Crime

Diperjalanan naik dan turun, ada pohon cemara yang instagrammable lah di sisi kiri dan kanan jalan. Yang berjajar dari loket parkir, hingga 200 meter sebelum lokasi candi, lumayan panjang dan lumayan menukik. Saya berangkat lurus saja, menuju candi. Dan begitu sampai, apa yang saya ekspektasikan nyatanya berbeda. Candi njawar sepertinya merupakan candi baru, dan tidak pernah ada relief yang bercerita. Pun tidak ada juru kunci.

candi-njawar-dan-penari
kebetulan pas ada penampilan nari. Cuma bentar

Buat saya, Tempat ini barangkali mirip semacam paralayang, dimana pemandangan kabupaten malang dari atas bukit menjadi suguhan utama ditambah bangunan raksasa. Selain itu, ilalang yang sedikit ada bisa menjadi salah satu piliihan juga untuk menambah kesan cinematic looks.

candi-njawar-ketika-mendung
Suasana candinya.

Yah, bagaimana pun candi njawar merupakan candi buatan yang masih baru bila dibandingkan dengan singosari atau mbadut. Barangkali beberapa tahun lagi, ia baru akan menjadi cerita atau setidaknya hari ini ia menjadi cerita untuk para pemain ingress lokal jawa timur.

4 Replies to “Candi Njawar, Google, dan Masyarakat Sekitar”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *