Dosen itu …

Hari ini, saya adalah pejuang skripsi. Kebetulan dosen pembimbing saya mendapatkan tugas dari kampus tempat belajar saya untuk melanjutkan tugas ke ibukota, beliau meninggalkan mata pelajaran yang diampunya kepada tim, dan saya salah satu dari tim tersebut.

Belum sampai semester ini habis, saya menyimpulkan: “Jadi, Dosen itu ndak gampang ternyata”. Mungkin, Ada baiknya menyamakan makna dulu tentang dosen. Sesuai KBBI, Dosen adalah :

Tenaga pengajar pd perguruan tinggi;

Sehingga dapat disimpulkan yang akan dihadapi adalah seorang, sebuah grup ataupun sekelas mahasiswa. Terlepas dari mahasiswa baru atau lama.

Dilihat dari segi mata kuliah yang kali ini kami bantu. Alhamdulilah, Jika boleh dilakukan komparasi dengan mata kuliah lain, kuliah ini bisa dikatakan cukup menegangkan. Ya terang saja, selain Anda diharuskan untuk memahami mata kuliah dan menghasilkan sebuah produk. Kualitas dan laporan bisa menjadi bagian lain yang perlu diberikan applause pada tahap ini.

Laporan tersebut terbagi menjadi 2 yaitu, laporan mimpi (proposal) berisi tentang mimpi, harapan, keinginan produk buatan kamu di mata kuliah ini. lalu Laporan kemajuan (implementasi dari proposal). Lalu soal urusan kualitas, tentunya harus sesuai dengan peraturan yang berlaku. Misalkan saja, peraturan dari perundang – undangan, instansi terkait, atau bahkan keputusan presiden. Hal ini tidak main main tentu saja, mengingat sampai minggu pelaksanaan uts hampir 10% saja yang berhasil selesai pada tahap laporan mimpi. Sisanya? hmm.. 🙂

Dan produknya, mungkin pada minggu ini masih belum bisa dibahas. soalnya pada laporan mimpi saja belum jelas, apalagi pada tahap mulai menyelesaikan dan mewujudkan mimpi. Apa yang bakal digarap kira – kira kalau mimpi saja belum dilengkapi input – proses – outputnya. Bagi yang sudah pun, baru tahap awal. Sehingga tidak mungkin rasanya diceritakan apalagi dibahas.

Sebelum menjadi tim, saya pernah menjadi bagian dari mahasiswa. Merasakan bingung algoritma nya, merasakan bingung variable nya, merasakan bingung ketika ada sendatan ketika presentasi. Tapi ketika menjadi mahasiswa mata kuliah tersebut, ada bagian yang tidak didapatkan oleh mahasiswa mata kuliah tersebut tahun ini. dibantai kenyataan lapangan, yaitu proses presentasi kepada stakeholder selaku pemilik project.

Bagian ini saya sebut sebagai pembantaian. Karena jika kamu tidak melakukan persiapan matang sebelum menghadap, maka kamu akan keluar dari ruangan bercucuran darah! Ah, Alay! Jadi gini, lewat tahap presentasi pada stakeholder kamu akan ditanyai perihal seluruh sistem mulai dari “Kenapa berupa link bukan tombol?” sampai “Kok outputnya gini? prosesnya gimana?” dan tentu saja, sampaikan pada mereka dengan bahasa paling mudah dimengerti bukan menggunakan bahasa teknis. Dari mereka siapa yang akan paham ini di query gini, lalu nanti set end point, lalu ini, lalu itu. Jika belum sesuai harapan dan kefahaman mereka, maka tentu saja pertanyaan akan makin membingungkan (dalam pikiran kami)

Ternyata begitu saya terjun menjadi pesuruh Asisten Dosen, hal ini tidak semudah yang saya bayangkan. Mungkin ketika dulu saya memandang dosen tersebut, tinggal duduk, mempertanyakan, lalu menemukan celah dari proposal kerjaan saya yang dikerjakan setengah malam. Lalu coret coret, dan bilang “besok di print lagi yah!”. semua pikiran saya tadi buyar, ada bagian “tidak semudah itu”. Nyatanya ditemukan bagian dimana dosen harus belajar mengutarakan maksud nya dan memahamkan lawan bicaranya, memahami project seluruh kelas, membatasi project yang skalanya terlalu besar dan itu hanya dilakukan sehari sebelum mahasiswa presentasi. Hal ini tidak mudah buat saya. Kalau Anda menganggap itu mudah, jadi kita beda. *okefine 😐

Belum lagi mempermasalahkan mahasiswa yang di berikan saran tapi malah nggereng, padahal secara jelas masalah yang diangkat sangat berbeda dengan mata kuliah tersebut. Disisi lain, Jika dulu pas jadi mahasiswa masih ada teman satu kelas di kiri dan kanan, tapi begitu jadi Asisten menghadapi kelas sendirian. Siapa yang mau diajak omong? kalo ngomong malah ga fokus dan nanti komentar nya nylentang kemana – mana. Bukannya ini malah akan menyulitkan mahasiswa?

Jadi, sebagai Mahasiswa. Jangan semena – mena, ngatain dosen. Kalo jadi dosen, Nyoret nya jangan banyak – banyak. Kan eman kudu ngeprint lagi dari awal 🙁 Mungkin saya Meminjam istilah pasaran untuk sekedar penggambaran, Orep kuwi sawang – sinawang. penak seng nyawang, seng ngelakoni? lha ya mbuh!  😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *