Memotret Bimasakti di Gunung Butak

milkyway-gunung-butak
Agustus telah berlalu, dan tentunya ada banyak hal yang telah terlalui, baik, buruk, memalukan, menyenangkan. Dari sekian aktivitas tersebut, salah satu yang sering berulang pada bulan agustus adalah pendakian ke gunung. Kami sepakat untuk berangkat setelah cuti panjang libur di bulan agustus. Yah, selain antisipasi ramainya para pendaki yang upacara, deadline kesibukan masing-masing tidak bisa dihindari.

Selain mempersiapkan fisik, saya pun juga banyak melakukan pencarian informasi terkait gunung butak lewat Google. Utamanya rute dan tempat istirahat, dari sumber tersebut saya mendapati bahwa rute lumayan terjal dibanding Gunung panderman, dengan lama perjalanan hampir 8 – 9 jam. Sabana menjadi informasi yang saya garis bawahi, Hal ini karena:

  1. Saya yakin area ini cukup luas dan datar, ditambah dengan Agustus sedang kemarau. Cukuplah rasanya untuk bisa mulai membawa kamera, siapa tahubisa mengabadikan gambar bimasakti di atas sana.
  2. Angin cukup bertiup kencang, cukup sekedar untuk kewaspadaan.

Selebihnya saya tidak lakukan pencarian informasi, apalagi terkait cerita seram atau hal lainnya, selain menambah beban hal ini akan menciutkan mental.

Merencanakan Memotret Bimasakti

Sebagai seorang amatir, Google menjadi teman saya untuk mencari berbagai referensi. Salah satunya di bagian perencanaan memotret bimasakti ini. Saya mengawali dengan melakukan setting peralatan dulu. Melakukan pengecekan berbagai hal mulai dari lensa hingga baterai.

Setelah selesai, saya pun melanjutkan dengan pengepakan bekal untuk naik gunung. Buat saya, kekompakan tim untuk mendaki gunung adalah hal paling penting. Sehingga bekal persiapan haruslah efektif dan efisien, sekaligus tidak membebani tim. Dalam kesepakatan awal, kami memutuskan untuk membawa 1 saja tas ransel ukuran besar untuk berbagai peralatan. Semacam tenda, alat masak, dan juga alas. Sedangkan kantung tidur, air mineral, dan logistik tambahan dibawa tiap tim. Saya pribadi pun menyiapkan sesuai dengan kebutuhan, tentu saja ditambah kamera. Situasi memaksa saya memasukannya dalam tas berbeda, selain karena lumayan besar untuk tas ransel harian, ketika mendaki kamera harus diperlakukan lebih sensitif.

Sabana, kemudian menjadi pertimbangan selanjutnya untuk membawa tripod atau tidak. Dugaan awal, angin disana akan bertiup lebih kencang dibanding tempat lain. Kalau memilih tripod kokoh, maka bawaan akan jauh lebih berat. Dengan perhitungan tripod kokoh itu adalah 2kg, maka telah menambah beban sebesar 5-8%. Dan beban tersebut juga tidak akan berubah ketika turun, serta hal itu adalah pribadi. Maka saya putuskan tidak membawa tripod, tapi akan memanfaatkan hal lain ketika memotret disana.

gunung-butak-milkyway-prepare
Minus jaket dan logistik.

Selanjutnya saya melakukan pemasangan aplikasi stellarium, aplikasi planetarium untuk melihat bintang. Lewat aplikasi ini meski tidak spesifik, saya bisa menemukan lokasi gugusan bintang dan perkiraan cuaca malam. Saat itu, kurang lebih lokasi bimasakti akan terletak di arah barat daya.

Hingga kalimat ini, Persiapan selesai. Tentunya tidak perlu saya tuliskan juga secara spesifik semacam bekal apa yang dibeli, karena di blog lain sudah bisa ditemukan. ๐Ÿ˜€

Gunung Panderman – Gunung Butak

Kami memilih untuk berangkat dari jalur panderman, pukul 08.00 malam. Dengan perkiraan akan bermalam terlebih dahulu di latar ombo, salah satu jalur tempat berkemah untuk pendaki Gunung panderman. Setelah 2 Jam perjalanan kami sampai di lokasi. Saya tidak mengambil gambar atau memasak, kami lebih memilih untuk beristirahat mempersiapkan hari esok.

Pukul 07.30 tepat, kami berangkat menuju Gunung Butak setelah sarapan dan berbagai persiapan lain. Mulai dari Latar Ombo hingga Sabana, perjalanan kami lancar. Tidak ada gangguan sedikit pun, kecuali kami sedikit terpisah karena ritme perbedaan langkah kaki. Saya sampai duluan di sabana, kemudian mendirikan tenda. Barulah setelah tenda berdiri dari kejauhan terlihat teman-teman tertatih berjalan karena kelelahan.

rute-perjalanan-gunung-butak

kelelahan-di-gunung-butak

sabana-gunung-butak

Hingga maghrib menjelang, kami tidak melakukan apapun kecuali makan dan ngobrol. Malamnya pun sama, kami makan untuk kedua kalinya, dalam rangka memenuhi nutrisi untuk mendaki ke puncak esok hari. Saat itu, Masing-masing dari kami tidak tahu puncak ada di sebelah mana, diputuskanlah satu teman mencari informasi, sedang 2 teman lainnya memilih istirahat demi ke puncak esok pagi. Saya sendiri mengambil kamera dan kemudian sangat bahagia ketika keluar dari tenda karena langit malam ini so fucking awesome!

Dingin iya, tapi tidak menyurutkan niat. Saya mondar mandir mengitari sekitar lokasi tenda untuk mencoba mengambil gambar terbaik versi saya. Selesai mencari informasi, teman saya menghampiri, guna memastikan keadaan. Setelah perasaan sangat merinding mengerubuti, Saya mengakhiri aktivitas pengambilan gambar dan segera kembali ke tenda untuk tidur. ๐Ÿ˜€

Oh ya, untuk pengambilan gambar bintang kali ini saya memanfaatkan tas kamera dan sepatu sebagai tempat penyanggah kamera agar tidak bergeser sehingga gambar bisa sesuai dengan keinginan saya. Angin yang juga bertiup lumayan kencang membuat kebahagiaan bertambah karena tidak bisa membawa tripod dari awal pendakian. Sebenarnya kalaupun boleh diulang, saya masih ingin mengabadikan lebih banyak gambar. Tapi apalah daya, suasana tidak kondusif.

Belakangan ini tercetus ide akan ke Gunung lawu, semoga perjalanan terrealisasi dengan banyak cerita menyenangkan!

milkyway-gunung-butak

milkyway-gunung-butak

2 Replies to “Memotret Bimasakti di Gunung Butak”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *