Mengunjungi Pabrik Lama di Malang

Buat saya pertentangan itu wajar, ya maklumlah banyak hal yang tidak membuat orang bisa bersatu fikirannya. Misalnya saja tentang hari ini, Saya memiliki perbedaan pemikiran dengan bapak penunggu pabrik. Saya masih terheran heran dengan kelakuan bapak penunggu pabrik untuk melarang Saya mengambil foto di salah satu pabrik dengan alasan tidak jelas. Padahal sesuai dengan pengetahuan, pabrik sudah tidak dipakai lagi atau katakanlah pabrik tidak beroperasi. Yang kemudian akhirnya Saya masuk tanpa ijin. Dan barangkali bapaknya mungkin merasa tak dihargai karena Saya masuk tanpa ijin beliau, melainkan ijin wong ngaret (baca “e” nya pengucapan “pe” dalam kata tempe).

Jadi, awal ceritanya dimana saya berkunjung ke salah satu rumah teman. Posisi rumah teman saya ini sudah saya ketahui sebelumnya, yaitu ada di salah satu wilayah yang cukup jauh dari keramaian jalan. Beberapa kali kesempatan lewat jalan yang sama, saya menemukan salah satu tempat pabrik yang tidak dipakai. Sana sini terlihat usang, ditambah suasana yang sepi membuat kemudian menjadi daya tarik saya untuk melakukan perjalanan lagi. Tidak lain menuju pabrik itu saja, bukan ke rumah teman saya. Kamera dan jaket sekaligus celana panjang sudah saya siapkan dari keberangkatan, nyatanya belum cukup. Nyamuk-nyamuk di lokasi lalu menciumi saya membabi buta, hih!

Main di Malang - Pabrik Lama - Penunjuk jarrum
Pabrik Lama – Penunjuk jarum

Sampai di gerbang, saya tidak menjumpai ada petugas jaga di posnya. Tapi di kejauhan ada wong ngaret tadi, saya panggil saja.
“lek oleh melbu a?” (Paman boleh masuk?)
“yo mas, te ngaret a?”(boleh mas, mau cari rumput?)
“enggak, ate ndelok ndelok ae”(bukan, cuma mau lihat-lihat saja)
Kan ndak salah, saya mau lihat lihat. Tapi diabadikan dalam file berekstensi JPEG sih. 😀

Saya masuk, parkir motor disebelah motor bapaknya. Dimana tujuannya tidak lain adalah kamuflase, biar dikira semacam entah saudara tah apa bapaknya gitu. Tidak ada pelajaran memang dalam pabrik ini, kecuali Saya tahu bahwa pabrik ini didirikan sekitaran tahun 2004 dari batu peresmiannya.

Main di Malang - Pabrik Lama - Penampungan besar
Pabrik Lama – Penampungan besar

Jika tidak ada hal yang dipelajari kenapa masuk?

Saya masuk murni bukan karena niat jahat, penasaran lah yang membimbing saya sedari awal. Pun dalam lingkungan, saya tidak merusak apapun. Juga malah ngobrol sama wong ngaret tadi. Hasil dari perbincangannya adalah pabrik ini kini sebenarnya masih berfungsi, yang mana awalnya merupakan pabrik untuk mengolah gula kini dialih fungsikan menjadi pengolah pupuk. Dimana masih butuh waktu untuk melakukan perbaikan.

Saya sebenarnya sudah tahu bahwa ini adalah pabrik gula, dimana harapan ketika masuk ke lokasi, Saya bisa menjumpai mesin pengolah tebu tradisional. Dulu sekali saya sering diceritani sama mamak(panggilan saya pada nenek) tentang pabrik gula. Dimana untuk menggiling ditarik dua ekor sapi, lalu melalui serangkaian proses dan akhirnya menjadi gula pasir. Harapan itu ternyata gagal, karena dalam pabrik sudah modern dan kebanyakan karatan.

Main di Malang - Pabrik Lama - Rumah laba laba
Pabrik Lama – Rumah laba laba

Dan dalam harapan yang gagal, saya tetap belajar untuk dapat mengolah rasa sehingga bisa mendapatkan gambar terbaik versi saya. Di beberapa bagian memang Instagramable, satu kata pewakil untuk tempat ini. Sayangnya saya cuma sendirian, mau selfie pun juga ndak bisa.

Anyway, karena tempat ini tidak dibuka untuk umum jadi ya baiknya tidak saya lampirkan akses ke tempat ini. Lain kali bakal ada update di post ini kok, kalau emang sudah dibuka. Emang Anda tertarik main ke pabrik?

Main di Malang - Pabrik Lama - Setup tools
Pabrik Lama – Setup tools

Main di Malang - Pabrik Lama - 3 Tangki
Pabrik Lama – 3 Tangki

14 Replies to “Mengunjungi Pabrik Lama di Malang”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *