Menyusuri Malang dengan Plaur!

Plaur! Adalah kata perwakilan aktifitas sehari ini bersama 2 orang koplak muterin Malang, sebenarnya bukan seluruh malang sih cuma dari jln. Gajayana(UIN) Ke jln. Ijen dengan rute nggak jelas. Bisa jadi karena bosen skripsi, bisa jadi lagi pengen suasana baru, dan bisa jadi karena Plaur! berbekal kamera digital dan kaki, menyempatkan beberapa jam untuk hunting – bukan hunting, poto narsis lebih tepat


Dari sini semuanya berawal..
“Yuk makan!”
“Kemana?”
Gak eruh.”
Nah itu, jawaban “gak eruh” itu patut dipersalahkan atas munculnya ide Plaur! “Terserah“, “Gak Tau“, “Manut” barangkali adalah kata yang harusnya dibatasi penggunaannya karena lewat kata itu kadang banyak hal ambigu tercipta. Tanpa persiapan yang jelas, kami berangkat untuk menemukan angkot dari UIN Malang menuju jln. Jakarta. Mau ngapain? Menuju orem – orem khas Malang buat sarapan.

Sebagai orang Malang asli saya boleh dipermalukan karena nggak tahu mau naik angkot apa ke jln. jakarta, tapi alhamdulilah saya punya mulut buat tanya dari satu angkot ke angkot lain. Walhasil ternyata Angkot AL adalah media untuk mencapai tujuan kami. Setelah kurang lebih bertanya dari Angkot “LG”, “GL”, “JDM” dan menunggu 20 menit kami berangkat. 3 orang koplak ini sepertinya akan menjadi finalis kurang piknik  dan cerawak seangkot. Lha mau bagaimana? dengan  nada sedikit keras (ngomong rodok banter,bhs Malang) Kami mulai ngomentari orang boncengan, nunjuk sana sini, ngitungin receh dan kemudian ga jadi mbayar pake receh, sampai akhirnya turun pas di bagian hutan taman kunang-kunang.

Orem – Orem Malang

laaaah tutup, orem – orem e” teriak saya! “biasane ndek kene lo! iki wes ganti omah!” tambah saya ngotot. Saya melanjutkan dengan nada-nada ngotot lainya dengan kata yang berbeda membuat saya kemudian di seret disebelah oleh 2 orang tadi. Ditunjukan sebuah plang jalan, setelah melihat dan memperhatikan perlahan tulisannya.

PINDAH KE DALAM

Nyengir adalah jawaban untuk teman-teman kali itu. Lha bagaimana, sebagai tukang ngide dan nyatanya kecelik setelah ngotot. hehe.. 😀

Setelah sampai, perdebatan sempat dilakukan setelah akhirnya pilihannya jatuh pada orem- orem biasa. Sempat terceletuk dari temen saya ketika nunggu antrian
orem – orem wi opo lo?
angel di jelasne

Orem Orem Malang
Sengaja di-blur biar ga ngiler

Harap maklumlah, Kami bertiga berasal dari bagian negara berbeda. Satu Lamongan, satu Madiun dan saya sendiri Malang. Sehingga setelah ditelusuri lebih lanjut ternyata ada banyak nama untuk makanan ini, di Madiun disebut jangan lombok, di Lamongan entah apa. Ah sudahlah, peduli setan Selang beberapa saat orem – orem datang, semua senang! setelah habis kami kenyang, dan ayo pulang.

Taman Kunang – kunang

Selagi dalam perjalanan pulang dari tempat makan, kami menemukan spot foto. Hotel belum jadi ditempat  orem – orem sebelum pindah ke dalam. Belum punya nama, tapi desain arsitekturnya mirip bangunan di luar negeri. Tapi, masa bodoh ngomongin arsitektur karena bukan bagian keilmuan saya (Barang kali suatu sat saya belajar). Jelasnya saya foto.

Berhubung hari masih siang dan belum hujan kami melanjutkan pada taman kunang – kunang, barangkali dinamai seperti ini lantaran adanya lampu sekitar taman ini yang menyala secara bergantian. Kami menyusuri dari bagian paling selatan hingga paling utara, menyusuri sepanjang jalan jakarta dan semarang. Sekalian juga foto di sekitar area ini.

Foto kiriman Alvian Burhanuddin (@elfarqy) pada


Ngomong – ngomong, sejak taman ini dibangun kiranya baru pertama kali ini jalan jalan disekitar taman ini. Ya walaupun kadang lewat dengan motor, tapi belum pernah berhenti cuma sekedar lewat. Taman ini lumayan asik memang menurut saya buat nongkrong, ada tempat duduk, tukang jualan kopi, tapi ada bagian yang kurang :

  • Nyamuk, jadi ada baiknya kalau mau nongkrong lama bawa lotion anti nyamuk. Soalnya saya, mbrendol semua. Mbrendol bahasa indonesianya apa ya?
  • Muda mudi, Abegeh pacaran. Lha ini.. saya terganggu mengingat ke-pateng tlecek-nya di taman itu. Saya terganggu dengan kemesraan (yang terlalu ditampilkan) di khalayak ramai, entah 2 orang koplak lainnya.

Cotton Inc

Jam tangan saya masih pukul 3 sore, ah masih terlalu dini untuk pulang. Sedikit mendung, tapi keputusan melanjutkan perjalanan masih kuat.
“Nang cotton inc yok!”
Nandi?
emboh, sekitar kene kok jarene
Demi jarene! Dan kami menyusuri sedikit jln Ijen.

Cotton inc nyatanya adalah warung jualan makanan bukan hanya permen. Variasi menunya bermacam mulai dari gula kapuk sampai dengan ramen. Perjalanan tadi rupanya sudah menguras kenyang dari orem orem. Pesanlah kami menu cotton candy, dan habis. Kami kemudian pesan kentang, habis juga. kami kemudian pesan kentang juga tapi jenisnya beda, alhamdulilah ada.

Foto kiriman Alvian Burhanuddin (@elfarqy) pada

Untuk minum kami pesen Soklat, kebetulan habis, pesen lupa namanya, juga habis, baiklah kami pesen kentang doang tanpa minum, btw kami bawa minum dalam botol kok masing-masing. Hingga Lanjut pada foto – foto lagi. ngabisin baterai dan memori

Seperjalanan Pulang

Setelah proses pembayaran selesai di cotton inc, kami pulang. Awalnya akan pulang menggunakan angkot, namun tenaga masih ada. Jadi, mari kuatkan tali tas dan mulai jalan lagi jadilah kami pulang dari cotton inc ke posisi awal perjalanan, UIN. Sedikit mendung nyatanya ndak bikin romantis, tapi malah was – was dengan musim hujan. maklumlah, barang elektronik ini belum ada yang tahan air. ditambah pula, tas yang kami bawa relatif kecil dan tidak tahan air pula. heheh..
kurang lebih dari Ijen ke UIN menghabiskan waktu sekitar 1 jam, ditambah dengan solat sebentar.

Buat saya, perjalanan seperti ini bolehlah untuk diulang. Kenapa? ada hal yang berbeda saya rasakan dari kebiasaan yang menyusuri kota hanya dengan sepeda. Dan nyatanya, ndak harus jauh – jauh main ke alam untuk sekedar tamasya. Yuk uklam menyusuri kota.

One Reply to “Menyusuri Malang dengan Plaur!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *