Namanya Pak Akbar, Sudah Kenal?

“maturnuwun ya mas”

 

Salah satu kata yang paling sering saya dengar dari teman saya, Pak Akbar namanya. 2 hari lalu(Jum’at dan Sabtu), Saya kira adalah hari yang paling banyak Saya habiskan dengan beliau untuk melakukan sekedar menyusuri kota Malang dengan hati. Juga tidak lain, untuk melakukan pengecekan rute agar acara kopdar nya bloggerngalam berjalan dengan lancar. Namun, di hari H acara perjalanan ini secara otomatis kami batalkan mengingat, mendung yang tidak bisa diajak untuk berkerja sama. Sehingga pak Akbar, menjadi tour guide kami dalam museum Malang tempo dulu, museum Malang time travel dengan konsep having fun seperti istilah dari pak Akbar.

2016-01-26_11-59-30

Pak Akbar mungkin tidak setenar pak Dwi Cahyono, ya bagaimana pun kalau dikomparasi status nya tidak akan pernah sama. Karena pak Akbar adalah salah satu karyawan yang ada di yayasan inggil.  2 hari yang kami lalui sambil berjalan kaki menyusuri kota itu, sambil pak Akbar menceritakan kota Malang. Beliau juga berkisah tentang dirinya.

Malang wes akeh berubah e mas, eman asline lah tapi yok po maneh
(Kota Malang sudah banyak berubah mas, sayang tapi ya mau bagaimana lagi).

Kalimat itu Saya ingat beliau ucapkan ketika kami melewati pertokoan Sarinah. Komplek yang hampir sudah sangat berubah dari foto lama nya yang sempat ditunjukan kepada Saya. Dari percakapan itu beliau melanjutkan.

Aku mbien seneng dolan nang gramedia, moco buku. lek pengen iso moco, yo dolan runu. Soale aku mbiyen ga iso tuku buku. Lek balek liwat toko iki(toko oen), pengen mlebu tapi ga iso kan aku biyen gurung duwe duik. Yo akhire, aku duwe kepingin melbu nang toko iki tapi kudu gratis. Akhire belajar bahasa inggris aku mas. Aku bien ya pas awal-awal ndek tourist information center(mbek nuding) ngenteni lek ono turis liwat tak jak i omong, yo gedandapan seh. tapi yo jare turis e “good,good..” kongkon terus mbiyasahno belajar. dan akhire suwe ne suwe aku mulai iso. mbiyen ndek sebelah nggon iki digawe belajar konco konco mas, ono tembok e. Dadi ndek jero iku lek seng karep belajar boso jepang, ono. lek seng belajar prancis, ono. lek seng belajar boso londo, yo ono. gari milih ae. Tapi saiki wong-wong koncoku biyen wes podo nandi-nandi, ono seng nang bandung, jakarta, yo ono seng nang luar negeri barang. lek ben ketemu aku, konco-konco iki mesti ngomong “sek ndek kene kene ae ta? ” aku njawab “yo pak, sek ndek inggil”

Deg!
Saya semacam merasa entah, Saya kemudian mengkomparasi pada diri sendiri. Buku dengan mudahnya membeli, tapi terkadang terabaikan begitu saja. Sedangkan beliau yang ada didepan Saya ini harus rela berjuang dari rumahnya untuk sekedar membaca buku di Gramedia. Saya kemudian harus kembali introspeksi, melakukan pengukuran apa yang saya dapat setelah banyaknya kemudahan saya dapatkan dalam perjalanan kehidupan ini.
Saya juga merasa entah lagi, untuk cita-cita se-simple makan es krim di toko Oen yang kemudian menjadi salah satu caranya untuk belajar bahasa asing. Hal ini dibuktikan dalam perjalanan kali itu beliau sempat bertemu dengan beberapa orang asing, guide lain yang seangkatan. Cara komunikasi beliau Saya kira cukup luwes dan kreatif. Misalkan terhadap kata yang tidak beliau ngerti, mulailah beliau berisyarat.
Yang mana saya kira hal itu tidak didapatkan dalam tempo singkat, hal ini sesuai dengan jawaban beliau ketika saya tanya

Pinten tahun pak ten inggil?
Yo luwih kurang 17 tahunan mas

Egh! 17 tahun sepertinya bukan waktu yang sedikit, dan saya kira beliau hampir juga memiliki pengetahuan yang panjang tentang kota Malang sendiri.

Aku iku sering mas, melaku-melaku karo wong luar ndek malang. Roto roto seng nang malang iku ya ono seng mengenang, ono seng kepingin eruh bangunan e mbah e. tapi ya ngunu mas, kadang akeh kaget e soale bangunan e ganti.

Hmm.. Saya butuh belajar banyak hal sama bapak ini, belajar soal Malang, belajar soal hidup, dan belajar soal menata hati.

 

One Reply to “Namanya Pak Akbar, Sudah Kenal?”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *