Pelajaran Penting dari Pantai Batu Bengkung

Akhir-akhir ini hidup saya penuh dengan drama, tapi tenang ini bukan drama rusia yang ada di pertelevisian. Apalagi drama telenovela.

Saya pingin main! Tidak ada hubungannya sih dengan kalimat awal tadi, tapi saya pingin main! Sempat mengirimkan pesan pada beberapa teman untuk melakukan ajakan namun ditolak, kesibukan masing-masing menjadi salah satu alasan utama. Sore itu saya merasa gagal karena tidak punya teman jalan-jalan, hingga akhirnya tetiba ada sms masuk.
“Ga pengen maen? kosku wes mau abis loh!”
Dari situlah chat panjang kemudian dimulai hingga akhirnya setelah menimbang, mengingat, maka Pantai Batu Bengkung di pilih sebagai tujuan penyegaran kembali. Yak saya katakan ini MESTAKUNG! Biarlah saya kemudian alay.Terakhir kali main ke pantai, bulan Agustus lalu. Ke pantai 3 warna. Dan jika dihitung hampir satu semester ini, saya sudah tidak mendapatkan vitaminsea. Dari sekian pantai yang ada di pesisir selatan kab. Malang, Batu bengkung kemudian dipilih sebagai pantai tujuan kali ini.Berdasarkan sumber yang kami dapatkan Untuk sampai ke pantai batu bengkung terdapat 2 jalur. Yaitu Jalur searah menuju pantai balekambang, lewat kecamatan Gondanglegi dan Jalur Sendang Biru, lewat kecamatan Turen. Sebenarnya kedua jalur ini Saya anggap memiliki jarak tempuh yang sama, jika di mulai dari kota Malang. Kenapa kok sama? Jalur ini nantinya akan bertemu pada satu titik yaitu Jalur Lintas Selatan (JLS).

Foto kiriman Alvian Burhanuddin (@elfarqy) pada

JLS merupakan jalur yang sudah lama dibangun kurang lebih sejak saya semester 3 dulu (tahunnya rahasia :D). Setau Saya, Jalur ini terbentang dari arah pantai Sendang Biru hingga arah pantai Balekambang, bahkan hingga jalur pantai Kondang Merak. Satu minggu lalu dari post ini terbit, Pengecoran sampai di pertigaan pantai Balekambang. Yang mana belok kiri(menuju pantai Sendang Biru) sudah di perbaiki dan arah kanan(menuju pantai Kondang Merak) masih berupa jalan berbatu putih. Jalur ke kiri, Saya anggap sudah sangat nyaman digunakan. Baik untuk kendaraan roda 2,4 atau lebih. Namun, sebagai kewaspadaan untuk tidak melintasi jalan ini sendirian. Maklumlah jalan sangat sepi dimungkinkan ada begal.

Nah, kembali pada perjalanan. Untuk mencapai pantai Batu Bengkung, Saya menggunakan matic roda 2. Perjalanan kami dimulai dari Kota Malang pukul 09.00, dan setelah kurang lebih 2 jam 45 menit kami sampai. Kami sepakat mengambil jalur Balekambang, yaitu Malang – Gondanglegi – Pagelaran – Bantur – Sumbermanjing Wetan. Ketika sudah sampai di JLS, kebetulan Saya yang tidak tahu arah saat itu. Akhirnya memutuskan untuk bertanya pada salah satu warung di sisi jalan.

“punten buk, batu bengkung pundi nggeh?” (Maaf buk, batu bengkung arahnya kemana ya?)

“Lurus ae mas, buka ta pak?” tanya beliau pada bapak-bapak yang sedang duduk didepan warungnya.

“oh iyo mas, lurus ae. tapi mbuh buka ta nggak yo? soale jarene ono rendra ate mrene. Lek ngudel ambe jelangkung tutup mas, renov” (Oh iya mas, ambil jalan lurus. Tapi entah buka apa enggak ya? soalnya ada Rendra mau kesini. Kalau pantai Ngudel dan pantai Jelangkung tutup mas, ada renovasi).
Saya mengiyakan jawaban dari beliau, kami lurus ke arah timur sambil menikmati jalan yang sangat sepi dan aspal baru.

Landmark batu bengkung
Landmark Batu Bengkung

Landmark Batu Bengkung menjadi penanda kami sudah sampai di lokasi, kami segera menuju pantai yang dimaksud. Sempat kaget sebenarnya, karena tidak ada nya tukang tunggu karcis pada pos yang disediakan. Ya Alhamdulilah, ya sempat kaget. Soalnya bingung, apa ini kemudian pertanda bahwa saya harus jagain sepeda dan ga bisa main-main di pantai? atau pantai ini sebenarnya masih alami? atau bagaimana? pertanyaan itu ada dibenak saya ketika baru sampai di gerbang.

Jawabnya, enggak! Pantai ini sudah hitz sedemikian rupa, banyak toko berjejeran di sepanjang pantai. bahkan ada parkir 24 jam yang tersedia di pantai ini. Bisa disimpulkan sepertinya bisa dilakukan aktifitas semacam kemping di sekitar lokasi ini. Begitu sampai, Yang saya lakukan pertama kali sampai adalah mencari parkiran. Salah satu cara untuk mengamankan kendaraan dan saya mau asik jalan-jalan. Saya menemukannya di ujung timur pantai, dengan harga parkir 5 rb rupiah perkendaraan. Tidak disangka, disini kami ditarik retribusi 5 ribu per orang. Baru ngeh kalo bayarnya disini, bukan di depan gerbang pantainya. Buat saya sih, nggak apa. itung – itung buat pengelolaan pantainya, kali aja bisa lebih lestari dan lebih asik aja. 😀

Pantai Batu Bengkung
Banyak toko di pinggiran pantai

Jam di tangan Saya masih di angka 12, Panas? jangan tanya, tapi ngga mau ngiyup. Plis! Udah jauh dateng sini mau manja-manjaan. Dari kejauhan parkiran, ada jalan setapak terlihat di pulau kecil (yang ternyata berasa luas setelah dijelajahi).

“Saya pingin jalan kesitu, toh sudah ada jalannya jadi bisa diakses” Saya berkata dalam hati.

Pantai Batu Bengkung
Pantai batu Bengkung di antara 2 pulau

Saya ngga tau menau soal pulau ini, yang jelas cuma jalan saja. Mengikuti setapak yang sudah ada, sampai akhirnya kami mencapai puncak pulau. Dan saya mengikuti jalan lagi, hingga akhirnya ada di perhubungan antara satu pulau kecil dan pulau lainnya. Karena tidak ada jalan menuju ujung pulau lainnya, Saya istirahat. Seketika itu sadar, kalau banyak benjolan bekas gigitan nyamuk di kaki. Jelas saja, kali itu saya menggunakan celana pendek. Pelajaran nomer satu main ke batu bengkung adalah jangan lupa bawa lotion anti nyamuk jika Anda ingin jalan mblusuk di pulau ini.

Foto-foto sebentar, dan kami merenung. Merenung ciptaan tuhan yang begitu luas, dan kenapa ngga pernah kering. Juga kenapa airnya asin. Juga kenapa karangnya gede. Kenapa juga ngga ada kelapa tiba-tiba jatuh dari langit. Ya barangkali kalo ada yang bilang Malang adem, coba main ke pantai biar ngga terus kedinginan. 😀 Seandainya saya punya waktu lebih, saya pengen nikmati sunset dari pantai ini. Pandangan ke arah barat sangat luas, hampir tidak terhalang apapun.

Tidak terasa, Matahari sudah condong sedikit, saya memutuskan untuk turun dari pulau dan balik ke pantai. Ada kabar baik untuk turun, yaitu digunakannya jalan yang sama. Naik puncak dan turun lagi, kurang lebih seperti itu. Kabar buruknya, kami lupa jalan pertigaan di puncak pulau. Walhasil, nyasarlah di pulau kecil-namun-luas, Kami ambil salah satu jalan, ternyata menuju laut. Kami ambil jalan lagi, ternyata juga laut. Muter-muter eh malah berasa ilang. kami ambil jalan lagi, dan muter lagi. Hingga berkali-kali.

Atiku ndredeg awak e ilang rek! mosok ndek pulau cilik ilang! duh saya meracau.

Kalem.. sik talah sahut partner saya.

Setelah hampir 45 menit mengitari pulau tanpa penunjuk arah, kami bisa kembali ke puncak pulau. Dan mengambil jalan pulang yang benar. Dapat diambil pelajaran ke dua main ke pantai batu bengkung tandai jalan berangkat dan pulang jika memang diperlukan, karena banyak percabangan serta kurangnya penunjuk arah.

Pantai batu bengkung
Jalan setapak, dikelilingi semak

Pantai Batu Bengkung
Dikiri lereng karang, dikanan laut. mau kemana lagi?

Capek iya, ngelak iya, luwe iya. tentunya juga lega, karena sudah sampai di pantai kembali. Air mineral yang kami bawa ternyata sudah habis, artinya sesegera mungkin harus melakukan recharge kembali di warung sebelah pantai. Karena ditambah dengan lapar, saya pesen es degan lengkap dengan batok kelapanya untuk menu makan siang. tapi saya cuma minum air degannya dan daging degan-nya, batoknya dibalikin lagi. Sambil menikmati es degan segar, saya berpendapat bahwa tahu rute juga hal penting. Yah, menemukan jalan pulang dari pulau kenangan kecil ternyata ngga semudah yang saya bayangkan di awal tadi.

Pantai Batu Bengkung
Batu Bengkung, batu yang tidak lurus

Ngga terasa, es nya cepet abis. Anyway, Saya memilih warung yang lebih ramai dari lainnya, biar nggak sepi aja. Dan ternyata iya. Ada segerombolan (semacam) mahasiswa, bikin video.

MAY TRIIIIPPP MAY EDVENCEEEERRRR

teriak mereka di dalam warung. Saya sendiri senyum tipis, dan bilang sama partner saya tadi.
nggawe sisan a?
Kemudian salah satu dari kami membayar es degan. 1 buahnya 8ribuan, murah nggak? Atau punya rekomendasi bawa bekal dari rumah? 😀

 

 

18 Replies to “Pelajaran Penting dari Pantai Batu Bengkung”

    1. Bisa nya cuma sunset kayaknya mas, soalnya di bagian timur ada tanjung yang menjorok ke laut. Dan saya belum nemuin jalur akses ke tanjung itu, padahal pengen. 😀

      Belum pernah lewat tulungagung sih, tapi ini udah lumayan lebar kok. heheh

    1. Loh, bukannya sempu itu wilayah konserfasi yak? kudu ada perlu yang baik macem penelitian gitu sih setau saya kalau mau kesana.. 😀

  1. Saya udah lama buanget nggak ke pantai kwwwwkkk

    Eh tapi kamu kok gak renang? Klo ke pantai gak renang rasanya kurang sreg, lha kamu malah jalan2 dan digigitin nyamuk ha ha ha…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *