Plaur! Stasiun Kota Baru, Kami Datang!

Panas setahun dihapus hujan sehari – anonim

Sering sekali mendengar kata itu, mungkin adalah peribahasa dan bisa jadi adalah fakta dari kenyataan dari pengalaman seseorang. Saya barangkali penikmat kata itu dalam konteks pengalaman, yaitu pertemuan. Tidak bertemu beberapa hari diganti dengan beberapa menit. Beberapa menit itu untuk Saya pribadi sebenarnya sangat kurang, mengingat kamera bawaan belum sepenuhnya menyimpan memori bermakna, banyak kata yang masih tersampaikan dan banyak momen belum tercipta dalam beberapa menit itu. Barangkali kalau pun diibaratkan hujan, hujan nya ini cuma teltik(hujan dengan intensitas rintik sangat rendah, di rumah saya disebut begitu). Berangkat dari pengalaman pertemuan ini, Saya memutuskan untuk plaur lagi.

Tujuan Saya dalam perjalanan kali ini adalah sekitar stasiun Kota Baru hingga pertokoan Kayu Tangan, seperti biasa saya tetap berjalan kaki itung-itung olahraga. Tidak seperti sebelumnya ada beberapa hal yang berbeda, Saya menggunakan kendaraan pribadi dan ketambahan satu anggota baru (sebenarnya diawal berhalangan datang) terhitung kami ber-4 orang.

Kompleks gedung DPR adalah area awal yang kami lewati. Kompleks gedung ini terletak di jalan tugu bagian selatan. Sebenarnya tidak ada yang istimewa dalam gedung ini, mungkin bukan tidak ada keistimewaan. Tapi kurangnya eksplorasi untuk gedung ini mengingat belum tersedianya gedung untuk diakses publik. Ikon baru terdapat di sekitar gedung, yaitu adanya penambahan nama jalan di beberapa sudut berikut dengan nama lawas dari jalan tersebut. Misal jalan tugu dengan nama asli Coenplien Jan Pieterzoon.

Sebentar saja kami di komplek gedung DPR, karena kami menuju villa tumapel. Salah satu tempat foto keren di sudut kota malang, lokasinya terletak di sebelah barat dari kantor walikota malang di depan dinas sosial. Sejujurnya saya baru kali ini berusaha melakukan akses masuk, sebelumnya yah cuma lewat saja. Tidak terfikir kemudian untuk masuk dan foto. Niat ini didasari oleh beberapa foto milik netizen yang bersebaran di Instagram.

Saya melihat tulisan terpampang di bangunan ini “tidak diperkenankan melakukan aktifitas apapun di villa tumapel terkecuali mendapat ijin pihak pengelola”. Saya kira pengelola dari villa ini adalah kampus UM, sesuai dengan plakat peresmian di tembok depan villa. Rasa penasaran saya mendorong untuk bertanya pada penjual asongan.
“Buk, teh niki pintenan nggih”
“Seng iki petang ewu mas”
“Nggih buk, kaleh. Niki lek melbet ten njeru yak nopo nggih?”
“Langsung ae mas..”
“Oh nggih”
Saya menuju pintu gerbang berusaha membuka pintu, sampai akhirnya saya menemukan rantai dan gembok. mau tidak mau, saya kembali bertanya perihal gembok tadi pada pedagang sekitar.
“Buk, kok digembok nggih?”
“Mosok se mas? biasane lo buka.. “
Alah, saya belum beruntung. Sebenarnya ada dilema yaitu tentang:
– Apakah villa ini masih aktif dan diijinkan untuk mengambil gambar didalamnya.
– Atau apakah proses pengambilan gambar dilakukan secara illegal.
tapi apalah, kaki saya belum capek. Saya masih mau meneruskan jalan-jalan di sekitar wilayah ini.

Splindit(atau splendid, tulisan aslinya saya kurang tau), Tujuan saya berikutnya. Terletak 100 meter dari villa tumapel. Splindit ini sebenarnya adalah pasar hewan peliharaan saya kira, bukan sekedar pasar burung. Beberapa jenis hewan peliharaan terlihat diperjual belikan disini mulai dari burung, ikan, hewan merayap, dan beberapa reptil. Saya bukan penikmat hewan, tapi tempat ini cukup untuk menjadi salah satu rujukan membeli hewan peliharaan. pasalnya bukan hanya tersedia hewannya saja, tapi juga aksesoris, pakan dan lainnya. pun saya juga tidak mengambil foto pada wilayah ini. bukan karena apa, tidak nyaman saja, hehehe..

Foto kiriman Alvian Burhanuddin (@elfarqy) pada

Rencana awal sebenarnya akan langsung kembali ke tempat kami parkir kendaraan, tapi Saya mengusulkan untuk memutar arah ke arah pertokoan kayu tangan. Agak jauh, tapi bagian ini lumayan asik untuk berfoto. Beberapa pemandangan bangunan tidak terawat setidaknya cukup apik untuk dijadikan background foto. Pun juga beberapa mural yang cukup keren, terlepas dari boleh atau tidaknya ada mural di tembok tembok sepanjang jalan ini. Kami berjalan dari gereja hingga perempatan BCA. untuk kemudian memutar ke arah alun-alun.

Sebelum ke alun-alun tugu, saya sempatkan waktu mengobati rasa penasaran.Sejujurnya ada rasa sangat penasaran pada pintu di seberang lampu merah, cuma ingin tahu apakah masih digunakan atau tidak. Dan bum! wajah saya berhadapan langsung dengan wajah manusia di dalamnya. Mata kami bertatapan, tapi untunglah kami tidak menyimpan rasa :P. Kaget iya, takut iya. Ternyata bangunan kuno ini masih digunakan oleh orang, dan saya tidak tahu apakah dia pemilik atau bukan. Jelasnya ada orangya. Ndredeg saya belum habis sampai kami tiba di alun-alun tugu.

Foto kiriman Alvian Burhanuddin (@elfarqy) pada

Bunga-bunga plastik dengan ukuran lumayan memperbarui suasana alun-alun ini. Sudah lama memang, tapi sepertinya baru kali ini saja saya turun dan berjalan kaki di areal tugu. Sisanya sepertinya cukup kenal, bunga-bunga, kursi-kursi dan tentu tugu nya. Areal alun-alun tugu ini sebenarnya kami lewati ketika berangkat tadi, tapi memutuskan untuk dikunjungi ketika pulang. Bukan apa, biar searah saja. Belum sampai lama di tempat ini, hujan sudah menggiring kami untuk berteduh.
Mau tidak mau, Omah kopi menjadi sarana untuk berteduh sekaligus sedikit mengganjal perut. Ditemani dengan suara acara tv “katakan putus di Malang”, suasana batal romantis. Seharusnya kopi, hujan, dan kelelahan merupakan syarat yang sudah terpenuhi untuk melamun sesuatu. Tapi “katakan putus” telah mengubah suasana. Terimakasih “katakan putus”! Tapi meskipun begitu, saya dapat foto keren disini 😛

Tidak terlalu lama kami menghabiskan waktu di tempat ini, sore sudah menjelang. Kami memutuskan untuk pulang, Kembali pada tempat bersinggah masing-masing. Dan ketika saya baru saja sampai di tempat, ada pesan masuk
“yan, photo e! aku engkuk ga iso turu :(“
“kalem! timbang tak delete kabeh”
Astaghfirullohalazim, karo ngelus dodo..

2 Replies to “Plaur! Stasiun Kota Baru, Kami Datang!”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *