Saya dan YoungLex Seangkatan kok

Di pagi hari, salah satu rutinitas yang biasa saya lakukan adalah melakukan akses pada media sosial. Tak banyak sih, kadang membuka pemberitahuan dan membalas komentar, atau sekedar melihat lihat kondisi teman dunia maya. Beberapa tulisan ada mulai dari kegalauan soal diri sendiri, pekerjaan, dan lain sebagainya. Termasuk di dalam beranda saya adalah wawancara Metro tv news soal mas younglex, yang dibagikan oleh salah seorang teman.

Entah kenapa, kemudian saya melakukan klik. Membacanya, dan kemudian mencari sumber lain. Membandingkan satu sumber dengan sumber lainnya, berharap bisa memuaskan hati. Realita yang saya dapati setelah rutinitas banding website nyatanya tidak terlalu mengecewakan. Kesimpulannya adalah mas Younglex ini kurang ngregani-lah sama om Iwa K. Kemudian, ada oknum yang mungkin sedang butuh hiburan, sehingga melakukan screenshot path milik om Iwa K, dan dikirimkan pada salah satu akun untuk diunggah pada Instagram.

Kalau boleh beropini..

Saya nggak paham hip-hop, tapi kan saya seangkatannya Mas younglex. Lebih tua dia sedikit sih. Jika dipilih dan memilah, saya membagi 2 sebab-musabab kegaduhan ini terjadi. Yaitu :

Kemudahan Teknologi menjadikan hidup monoton

Kesalahan ini ada pada kemudahan teknologi, kemudahan untuk melakukan skrinsut, kemudahan untuk menghubungi orang berpengaruh di media sosial. Sehingga, ungkapan yang seharusnya personal dan diketahui orang dekat dengan mudahnya menjadi konsumsi publik. Bisa dibayangkan jika tidak ada kemudahan ini misalnya, mungkin om Iwa K, akan bercerita pendapatnya pada kerabat atau rekan kerja-nya saja.

Hal ini saya simpulkan langkah beliau yang mengunggah tulisannya di Path, karena beliau tahu bahwa tujuan Path dibuat yaitu.

Path is a quality, private social network available for mobile devices.

Simple Privacy: Youโ€™re in control of your privacy on Path with our easy-to-understand privacy controls.

Whats Path?

Tapi, ya itu tadi. Orang yang melakukan screenshoot memang sedang butuh hiburan kok. Soalnya dia nggak pernah kemana-mana, dan aktif di depan layar saja. Cobalah sekali kali ke Pantai Sendiki, Misalnya.

Keprucut bukan labil, tapi ya cuma Keprucut

Dan tentu saja, sebagai anak muda yang energik. Kadang kami sering keprucut, yang kurang lebih belum saya ketahui padanan katanya di bahasa indonesia. Eng.. bisa diartikan juga sebagai terlanjur atau khilaf, tapi tidak nyaman sih. ๐Ÿ˜€

Karena memang satu generasi, termasuk saya pun juga ini sering keprucut, tapi bedanya karena bukan artis. Sehingga ke-terlanjur-an itu tidak masuk di berita kategori โ€˜hot newsโ€™. Banyak belajar dan melatih diri merupakan salah satu terapi cara untuk mengubah ritme keprucut ini, agar tidak menjadi sebuah kebiasaan maupun watak.

Saya sempat membaca tanggapan Om Ignatius Penyami (@saykoji) di Notes Facebook beliau, dimana dalam tulisan tersebut. Beliau mengatakan:

I donโ€™t applaud what he said about Iwa K. Sama seperti film Star Wars dulu klasik dan cenderung gak up to date dibanding film Star Wars yang lebih baru, Iwa K is a classic rapper yang gue tetap look up to. Karena untuk generasi gue ada, gue harus belajar dari yang lebih dulu memulai sebelum gue. Classic is classic karena mereka memulai jauh sebelum yang lain, jauh sebelum teknologi bisa membantu dan jadi medium karya mereka dikenal tanpa batas.

Ya, begini nih yang asik. Beliau memang bukan legend, tapi tanpa generasi yang terdahulu bagaimana kita bisa belajar? Dan juga dari post tersebut, saya tahu bahwa genrenya mas Young lex ini sudah ada semenjak dahulu kala, cuma saya dan mungkin Anda saja baru tahu karena kemajuan teknologi yang ada.

Dan Terakhir, bagaimanapun mimpi mas Younglex untuk menjadi rapper dunia. Saya sepenuhnya mendukungmu sam! Harumkan Indonesia dari cara mu dewe, tapi tolong youtube privacy content-nya dinyalakan yah. Set 18+ atau 21+ lah ya.

8 Replies to “Saya dan YoungLex Seangkatan kok”

  1. Baru tahu saya soal ini, namanya pun (asli/brand) baru dengar sekarang (bukti kalau saya jadul hehe..). Oya, untuk ‘keprucut’, istilah ‘ketelepasan’ mungkin lumayan mirip. Tapi sepertinya ini lebih ke dialek Jakarta, alias padanan Indonesianya nan baku saya juga tidak tahu. ๐Ÿ™‚

    Menarik, Alvian. Jadi pingin nulis soal rap. >-I

    1. wah aku cari ketelepasan di KBBI 4 kok tidak ada ya? Barangkali memang kedua suku kata ini masih belum sah menjadi bahasa indonesia ya, karena masih bahasa daerah masing masing.

      ๐Ÿ˜€

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *