Semalam di Pantai Pangi, Satu Jam di Monumen Trisula

Kalau bukan atas nama perteman, mungkin saya tak akan pernah mengunjungi pantai pangi.

langit pagi di pantai pangi
langit pagi di pantai pangi

Lokasi pantai ini ada blitar bagian selatan, tepatnya di Tumpakkepuh, Bakung, Blitar. Pada kesempatan kali ini, saya memulai perjalanan dari kanigoro. Total perjalanan dari titik mulai hingga sampai ke lokasi sekitar 3 jam. Dengan perincian, 1 jam adalah persiapan bekal, yakni membersihkan ayam dan menyiapkan panggangan. Selebihnya adalah perjalanan, dan memilih arah yang tepat.

Prepare menuju lokasi
Prepare menuju lokasi

Untuk rute ke pantai ini, saya kurang tahu dengan detail. Karena Blitar bukan merupakan tempat penjelajahan saya, dan hampir sepanjang jalan lebih asik ngobrol dengan teman. Selain itu, perjalanan ini kami lakukan malam hari, sehingga sebagai penumpang saya tak begitu memperhatikan jalan. Pokoknya duduk, rame di kursi belakang. Saat perjalanan mendekati akhir, kami sepakat turun dari kendaraan. Karena kondisi jalan yang lumayan parah menyulitkan mobil untuk sampai pada lokasi. Jadi, demi meminimalisir kondisi berbahaya, kami turun dan menyiapkan tenaga bila dibutuhkan sewaktu waktu.

Tidak sampai lama, setelah jalan terakhir tersebut dilalui. Kami sampai di pantai pangi. Jam menunjukan pukul 2 pagi. Segera saja kami menurunkan perbekalan, nasi, panggangan, arang. Dan mulailah untuk menyiapkan makanan. Sementara yang lain menyiapkan makanan, saya ngeluyur mencari spot memotret milky way. Langit kala itu sedang bagus sekali sih, tapi karena merupakan pertama kali, begitu sampai di rumah dan saya lihat di pc seluruh gambarnya cacat. Yah, kudu lebih banyak belajar lagi atau mungkin karena karma ndak ikut ngipasi ikan panggang?

milky way pantai pangi
Dat milky way kacau. 🙁
penerangan pantai pangi
Hanya satu penerangan saja pagi itu

hmm.. bisa jadi sih, tapi tunggu.

Setelah sekian waktu mengambil foto bintang, saya kembali membantu mendirikan tenda kok. Lalu dilanjut lagi dengan melanjutkan ngipasi. Karena beberapa teman istirahat, sampai fajar menjelang.

Setelah lumayan terang, saya memilih untuk berkeliling sekitar pantai. Menemukan beberapa bapak nelayan yang sedang menjala atau memancing ikan. Sebelumnya ketika di mobil, salah satu teman memang memberi tahu kami untuk tidak membuat nyala lampu ataupun nyala api terlalu dekat dengan pantai. Hal ini karena ditakutkan akan mengganggu para pemancing untuk mendapatkan rejeki ikannya. Kami menurut anjuran tersebut, bagaimanapun kan kami cuma pendatang dan tentu saja, sebagai pendatang baik baik harus berusaha untuk menghormati penduduk asal dong.

Laut pantai pangi ini menurut saya tidak cocok untuk renang, selain karena ombaknya yang cukup besar. Terdapat aliran sungai bawah laut, semacam di pantai ngantep. Keterangan ini saya peroleh dari bapak nelayan yang kebetulan waktu pagi itu saya temui. Tapi, herannya bapak nelayan ini kok meletakkan jebakan ikan agak di tengah, bukannya dekat dengan pantai. Tapi, ya sudahlah, bapaknya manusia aja saya sudah senang.

Bagi tukang foto, baiknya bawa tripod dan filter. Ada beberapa spot yang saya kira baik untuk dijadikan mode long exposure, yakni batu batu dekat pantai. Selain itu, dipantai ini juga terdapat semacam danau air tawar lengkap dengan perahu nelayannya yang juga lumayan keren untuk foto.

Pantai nya luas, meskipun ada yang nganu.
Pantai nya luas, meskipun ada yang nganu.

Ngomong ngomong, Saya nggak tahu berapa tiket yang dibandrol untuk masuk ke lokasi ini. Lha bagaimana dapat tiket, wong saya masuk bersama 2 mobil lain pukul 1 pagi. Ya mungkin bisa jadi tips nih, buat yang mau pengen ngetrip gratis. Datengnya pagi pagi sekali. Selesai dari sini, rencana langsung pulang saja ke Malang. Namun, karena sesuatu hal kami masih mampir ke Monumen Trisula.

Monumen Trisula

Dari apa yang Saya dengar dari teman, monumen ini dijadikan sebagai prasasti untuk mengenang pembantaian pki di Blitar bagian selatan. Ketika mengunjungi lokasi ini, tidak terdapat tiket parkir ataupun tiket masuk lokasi. Padahal, Saya berpendapat lokasi ini cukup luas dan apik loh. Meskipun saat itu sedikit panas, karena memang matahari sedang terik dan kami belum pada mandi setelah dari pantai, tapi di lokasi ini masih banyak pohon dan lumayan lah untuk sekedar mencari angin. Pada monumen tertulis nama nama warga yang turut pula menjadi pejuang pemberantasan pki. Yang meskipun usang, namun masih bisa terbaca dengan baik.

Patung monumen trisula
Patung monumen trisula

Karena kami terburu buru, saya yang sempat tertarik pada sebuah rumah di dekat tempat ini harus memendam keinginan bertanya lain waktu. Saya kira rumah tersebut menjadi museum untuk peninggalan PKI atau tempat penyimpanan bukti perjuangan pada zaman itu. Sehingga seandainya bisa masuk, siapa tahu bisa di lihat sejarah apa yang terjadi hingga memunculkan monumen sebesar itu. Tapi perihal waktu, lain kali mungkin akan saya kunjungi.

Monumen trisula dari bawah
Monumen trisula dari bawah

Sampai tulisan ini, perjalanan selesai. Kami kembali ke Malang dengan terburu buru, maklum akhir pekan segera berakhir dan kami belum rehat menghadapi senin.

4 Replies to “Semalam di Pantai Pangi, Satu Jam di Monumen Trisula”

  1. pantai pangi emang blm banyak di explore jadi rute kesana memang sedikit sulit, beda jika main ke pantai tambakrejo / serang,. tapi pangi layak untuk diperjuangakan.
    coba main ke pantai PEHPULO …. pasti gak bakal nyesel …
    #VisitBlitar

    1. Wah gitu ya mas. Kemaren mau ke pehpulo juga sekalian. Tapi katanya muter lumayan agak jauh. Jadi, ya sudahlah lain waktu hehe.

    1. Wah aku belum pernah ke pantai bakung, itu di blitar juga ya?

      Sementara ini kalau compare ke pantai malang aja mbak. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *