Categories
Catatan Personal

VPS Murah untuk blog, pilih yang mana?

Tulisan terakhir di blog ini diterbitkan tahun 2018 lalu, artinya lebih kurang 2 tahun berjalan saya tak pernah menulis lagi perihal perjalanan di sekitar. Dalam kehidupan nyata, banyak sekali hal berubah. Perubahan tersebut berbanding terbalik pada dunia maya dengan situasi stagnan. Untuk blog ini biasanya dilakukan kontrol sebulan sekali, sekadar cek untuk update engine, plugin, dan tema, tentu saja untuk mengurangi bug pada pengembangannya, sehingga kejadian ter-hack seperti beberapa tahun lalu tak lagi terulang. Penambahan konten kali ini pun hadir dengan tujuan sebagai penanda bahwa blog ini telah berganti hosting ke VPS yang lebih longgar.

pindahan thumbnail
Pindahan from unsplash

Perpindahan ini memiliki 2 alasan sederhana saja, alasan yang pertama adalah hosting gratisan bundling dengan domain telah habis spacenya. Dari 150 MB space tersedia, 204 MB space telah digunakan, sekitar 136% dari kapasitas yang digunakan. Bagian keanehannya, entah mengapa kapasitasnya bisa overload tapi saya tetap bebas menggunakan hosting ini. Bisa jadi pembiaran ini menjadikan saya memiliki alasan kedua.

hosting usage
total penggunaan hosting

Alasan yang kedua. Mulai dari Akhir tahun ini, notifikasi website down makin sering saya terima pada email. entah karena memang server sedang sering maintenis atau memang servernya tidak dipantau, saya kurang tau. toh, mungkin juga hosting gratisan jadi sering down sudah menjadi fitur yang harus diterima. Pengaruh pada websitenya? Ya, jelas pengaruh sih. nah ini adalah alasan kedua.

notifikasi di email

Dari dua alasan tersebut, akhirnya saya memutuskan untuk pindah menggunakan VPS dengan harapan lebih reliable dan lebih longgar dalam mengaturnya. Dengan berbagai pilihan VPS, saya menyesuaikannya dengan kebutuhan saya, kalau nanti ada perubahan dari traffik atau kegunaan lainnya, Saya tinggal resize aja.

[tulisan selanjutnya merupakan catatan teknis soal pencarian vps]

Diawal pencarian VPS, pikiran saya terlalu sempit yang mana cuma tahu kalau VPS itu berbiaya kisaran minimal $3 – $5. Harga ini ada pada website penyedia vps yang sudah populer, semacam vultr, DO, amazon, dan Google. Saya pun sempat berlangganan pada salah satu website tersebut, selama 1 bulan. Karena penggunaan saya pada blog saja dengan traffik tak terlalu banyak, saya keberatan dengan biaya tersebut. $5 dengan nilai tukar rupiah yang naik turun, dihargai sekitar 70 – 80 ribu perbulan, setara dengan 5 gelas kopi kopian! (tergantung diskon juga sih)

Setelah tanya sana sini, dan googling dengan kata kunci yang lebih baik. Saya bertemu dengan website penyedia VPS Murah yakni lowendstock. Yup! ini adalah website untuk membandingkan beberapa website penyedia vps tidak populer. Tidak hanya itu, website ini juga menuliskan dalam list ketersediaan fitur pada vps tersebut. Sehingga dari website ini pun akhirnya saya memutuskan kontrak pada salah satu penyedia VPS populer, dan pindah pada salah satu pilihan dalam website tersebut.

lowendstock ui
tampilan website lowendstock

Secara umum fitur tersebut sudah umum di otak, semisal Lokasi, RAM, SWAP, CPU cores, Hard Disk, Bandwidth, Network uplink. Sedangkan beberapa fitur lain semacam IPv4 dan IPv6. Dari hasil googling, saya pribadi memilih fitur pemilihannya ada pada:

Virtualisasi: KVM. Dari 5 macam pilihan pada website tersebut. Yakni, KVM, LXC, OVZ, VMW, XEN. Saya memilih 2 yang umum yakni OVZ dan KVM. OVZ merupakan virtualisasi yang menggunakan satu kernel untuk berbagi resource, contohnya adalah docker. dimana docker imagenya menggunakan kernel dari host. Sedangkan KVM sama seperti virtual box, yang kernelnya dedicated pada virtualhost tersebut.

IPv4, sejumlah 1. IPv4, ini merupakan ip publik yang nantinya digunakan untuk pointing pada website. Dari filter yang ditampilkan, ada pilihan 1, 2, tidak support, dan NAT. Saya memilih pada angka 1, karena ya lebih mudah untuk dilakukan konfigurasinya. Selain itu, untuk konfigurasi tidak terlalu repot pada mesinnya, tinggal konfig pada vhost pada apache atau penyedia layanan yang digunakan. Sedangkan untuk NAT biasanya penawaran vps lebih murah, tapi harus memiliki pengetahuan tentang konfigurasi networknya. Selain itu, keamanan juga perlu menjadi perhatian karena vps ini merupakan vps shared.

RAM, minimum 512. resource terlalu kecil, kadang membutuhkan usaha yang lebih untuk mengakali berbagai hal.

Harga, yang lumayan murah. Disini ada yang setahun cuma $12, buat saya itu sudah lumayan murah. sebulan cuma habis 1 gelas kopi buat server, lebih hemat 4 bulan.

Dari bagian itu pilihan di website itu pula, saya tak terlalu pusing perihal fitur:

IPv6, karena fitur ini jarang digunakan untuk blog, jadi saya mengasumsikan saya tak terlalu butuh pada tipe ini, meskipun sebenarnya banyak hal baik dari fitur ini.

Lokasi, pengunjung blog saya kebanyakan orang indonesia, meskipun begitu saya tak terlalu khawatir perihal lokasi vps ini dimana. Dengan pertimbangan pengaksesnya rata rata sudah memiliki koneksi bagus, dan website juga menggunakan fitur CDN.

Hasilnya, dari hasil penggunaan selama kurang lebih satu bulan. VPS murah ini cukup lancar, belum ada email dari jetpack perihal website tidak bisa diakses atau yang lainnya. Jadi bagi yang mau ikutan coba, silahkan saja asal resiko tidak ditanggung sendiri. :D

Gimana menurutmu?

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.